Dorongan Konsolidasi Menguat, Bank KBMI 1 Masih Bertaji

Dorongan Konsolidasi Menguat, Bank KBMI 1 Masih Bertaji

Poin Penting

  • KBMI 1 mencakup 59 bank atau 56 persen bank umum nasional. Meski aset dan kredit tertekan, kinerjanya relatif sehat dan bukan sumber risiko sistemik
  • Laba KBMI 1 tumbuh 39,78 persen yoy per Oktober 2025—tertinggi di antara KBMI lain. Kualitas aset dan permodalan terjaga, mayoritas NPL di bawah 5 persen dan CAR jauh di atas ketentuan
  • Dorongan konsolidasi OJK hadir di tengah perlambatan industri dan tantangan digitalisasi. Namun, fokus KBMI 1 pada UMKM dan basis lokal membuat perannya tetap relevan dan berkelanjutan.

Jakarta – Bank KBMI 1 sering keburu dicap kecil dan rentan. Jujur saja, label itu kerap muncul tanpa melihat konteks utuh. Padahal, dari sisi jumlah, merekalah mayoritas di industri perbankan nasional. Hingga Oktober 2025, ada 59 bank KBMI 1 atau sekitar 56 persen dari total bank umum di Indonesia.

Data Biro Riset Infobank menunjukkan, total aset KBMI 1 per Oktober 2025 mencapai Rp1.316,76 triliun. Angka ini memang turun 8,23 persen secara tahunan, dan pangsa asetnya susut menjadi 9,96 persen. Tapi kalau melihat lebih jernih, penyusutan ini lebih dipicu ekspansi agresif bank KBMI 3 dan KBMI 4, bukan karena KBMI 1 kehilangan daya hidup.

Dari sisi kredit, KBMI 1 juga tidak berhenti bergerak. Kredit masih naik dari Rp698,33 triliun pada 2021 menjadi Rp744,13 triliun per Oktober 2025. Memang, secara tahunan terakhir tercatat turun 6,07 persen, tapi ini lebih mencerminkan strategi bertahan dan kehati-hatian.

Dana pihak ketiga (DPK) KBMI 1 berada di angka Rp950,96 triliun, turun 2,94 persen. Yang menarik justru ada di laba. Laba KBMI 1 melonjak 39,78 persen secara tahunan menjadi Rp12,67 triliun. Ini pertumbuhan laba tertinggi dibandingkan kelompok KBMI lain.

Kalau ditarik lebih panjang, sepanjang 2021-2025 laba KBMI 1 tumbuh 180,92 persen dari Rp4,51 triliun. Sebanyak 34 bank KBMI 1 masih mampu mencatatkan pertumbuhan laba hingga September 2025. Gambaran ini menunjukkan satu hal, kecil-kecil cabai rawit.

Baca juga: OJK Dorong Bank KBMI I Naik Kelas, Begini Tanggapan BOII

Dari sisi kualitas aset, kondisinya juga relatif terjaga. Sebanyak 54 bank KBMI 1 mencatatkan rasio kredit bermasalah atau NPL gross di bawah 5 persen. Ini menandakan kehati-hatian tetap menjadi pegangan utama, meski tekanan bisnis tidak ringan.

Permodalan KBMI 1 pun tak bisa digeneralisasi lemah. Dari 59 bank, hanya satu bank yang CAR-nya berada di kisaran 13 persen. Sisanya jauh di atas itu, bahkan ada yang CAR-nya menembus ratusan persen. Jujur saja, ini bukan profil bank yang sakit sistemik.

Cerita KBMI 1 ini makin relevan sejak Oktober 2025, ketika isu konsolidasi kembali mengemuka. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengirimkan surat imbauan kepada 59 bank KBMI 1. Sejak itu, bank-bank kecil berada di persimpangan. Bertahan, naik kelas ke KBMI 2, atau masuk jalur merger dan akuisisi.

Tekanan konsolidasi itu datang di saat industri perbankan nasional juga sedang melambat. Hingga Oktober 2025, pertumbuhan kredit industri turun menjadi 7,34 persen secara tahunan, dari 10,58 persen pada Desember 2024. Fungsi intermediasi tidak lagi segalak sebelumnya.

Profitabilitas industri pun ikut tertekan. Laba bersih perbankan nasional turun 0,66 persen secara tahunan. Return on asset (ROA) melorot dari 2,73 persen menjadi 2,52 persen. Persaingan dana makin ketat, biaya operasional tidak murah, dan bank kecil ikut merasakannya.

Dari sisi risiko, kualitas kredit industri mulai menunjukkan lampu kuning. NPL gross naik dari 2,08 persen menjadi 2,23 persen, sementara NPL net naik dari 0,74 persen menjadi 0,87 persen. Dalam situasi seperti ini, bank KBMI 1 memang harus ekstra disiplin.

Meski demikian, likuiditas dan permodalan industri masih relatif aman. CAR industri turun tipis dari 27,02 persen menjadi 26,38 persen, tapi level ini tetap jauh di atas ambang minimum. Sistem perbankan tidak rapuh, hanya sedang tertekan.

Tantangan terbesar KBMI 1 justru datang dari kebutuhan teknologi dan digitalisasi. Investasi IT, keamanan siber, dan infrastruktur digital membutuhkan dana besar. Bagi bank kecil, ini bukan sekadar soal mau atau tidak, tapi soal sanggup atau tidak.

Baca juga: Urgensi Bank KBMI I Didorong Naik Kelas 

Tapi, di sinilah kekuatan KBMI 1 terlihat lebih jernih. Mereka fokus pada UMKM, komunitas lokal, dan pembiayaan berbasis wilayah. Kedekatan ini membuat bank kecil punya ceruk pasar yang loyal dan relevan, bahkan saat bank besar sibuk berebut pasar utama.

OJK menegaskan konsolidasi tidak bersifat seragam. “Pendekatan OJK bersifat persuasif. Kita akan menilai secara case by case untuk memastikan kepatuhan regulasi dan perlindungan nasabah,” ujar Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK.

Intinya sederhana, kecil tidak identik dengan lemah. Selama bank KBMI 1 sehat, fokus, dan adaptif, perannya tetap penting di peta perbankan nasional. (*) Ari Nugroho

*Baca laporan selengkapnya: Nasib 59 Bank KBMI 1, Siapa Bakal Dilahap Asing?, di Majalah Infobank No. 574 edisi Februari 2026.

Related Posts

News Update

Netizen +62