Jakarta–Perbankan kian getol membidik masyarakat unbankable lewat digitalisasi perbankan. Teknologi digital memang telah mengubah cara nasabah bertransaksi, terlebih di industri keuangan. Para nasabah kini lebih cenderung memilih produk serta layanan perbankan berbasis daring, karena lebih mudah dan cepat dalam bertransaksi.
Kondisi ini tentunya harus diantisipasi sektor perbankan, karena jika tidak perbankan berpotensi ditinggalkan oleh nasabahnya. Salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh perbankan dalam menghadapi situasi ini, maka Bank harus mendorong digitalisasi perbankan, yakni dengan membangun ekosistem digital perbankan atau Fintech.
Diharapkan dengan adanya digitalisasi perbankan, masyarakat yang belum terjangkau oleh layanan perbankan (unbankable) dapat terjangkau dan mendapatkan pembiayaan dari perbankan. Sehingga, ke depannya akan mendorong tingkat inklusi keuangan. (Bersambung ke halaman berikutnya)
“Digitalisasi transformation membuka kemungkinan-kemungkinan baru yaitu menjangkau calon-calon nasabah yang mungkin unbankable,” ujar CEO Compnet Group, Irawan Purwono, dalam forum yang diselenggarakan Infobank bekerja sama dengan Compnet, di Jakarta, Kamis, 1 Desember 2016.
Penggunaan infrastruktur teknologi informasi yang tepat akan membantu perbankan untuk mengoptimalkan produktivitasnya serta fokus dalam memenuhi pergeseran kebutuhan nasabah di tengah dunia digital yang kian meningkat. Menurutnya, perbankan harus mampu menghadapi perubahan digitalisasi.
“Kita saat ini sedang menghadapai digitalisasi transformation. Perubahan bisnis oleh perubahan digital. Antara lain adalah sektor perbankan. Salah satu penerapan di perbankan adalah digital banking untuk cost efisiensi. Saya harapkan, bank-bank bisa masuk era digitalisasi ini,” ucapnya. (*)
(Baca juga: Ini Pokok-pokok Pengaturan Digital Banking Oleh OJK)
Editor: Paulus Yoga




