Poin Penting
- Di tengah ketidakpastian global, wirausaha dan UMKM—yang mencakup lebih dari 97 persen struktur usaha nasional—menjadi penopang utama ketahanan ekonomi
- Ketahanan usaha tidak hanya ditentukan produk dan modal, tetapi oleh kesiapan mental, kepemimpinan, serta kemampuan adaptasi founder
- Program DSC menekankan pengembangan wirausaha berbasis tata kelola, kolaborasi, dan keberlanjutan sebagai DNA bisnis.
Jakarta – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, mulai dari tekanan geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga arah kebijakan moneter yang ketat, Indonesia justru memiliki penopang ekonomi yang relatif kokoh.
Wirausaha dan UMKM terbukti menjadi bantalan utama perekonomian nasional, dengan kontribusi lebih dari 97 persen terhadap struktur usaha di Indonesia sekaligus peran besar dalam penciptaan lapangan kerja dan menjaga daya tahan ekonomi.
Ketua Dewan Komisioner Diplomat Success Challenge (DSC), Surjanto Yasaputera, menegaskan bahwa ketahanan ekonomi nasional sangat bergantung pada kualitas wirausahanya.
Baca juga: Jangan Salahkan Global, Purbaya: Kita Nggak Becus Urus Ekonomi
“Kami tidak melihat wirausaha hanya dari performa bisnis sesaat, tetapi dari kesiapan mereka untuk bertumbuh secara berkelanjutan. Wirausaha adalah fondasi ekonomi jangka panjang, sehingga yang dibutuhkan bukan hanya bisnis yang kuat, tetapi juga founder yang matang secara karakter,” ujarnya dalam Konferensi Pers DSC Season 16 di Jakarta, Kamis (29/1).
Menurutnya, banyak usaha yang mampu mencatat pertumbuhan di fase awal, tetapi goyah ketika dihadapkan pada tekanan pasar, perubahan regulasi, atau perlambatan ekonomi.
Hal ini kerap terjadi bukan karena lemahnya produk, melainkan karena kurangnya kesiapan mental, kepemimpinan, dan kemampuan adaptasi dari para pendirinya. Karena itu, pendekatan pengembangan wirausaha harus melampaui aspek finansial dan operasional.
Surjanto menjelaskan bahwa wirausaha masa depan harus dibangun di atas pemahaman bisnis yang kuat, kemampuan eksekusi yang mumpuni, serta persona kepemimpinan yang adaptif dan kolaboratif.
“Bisnis yang berkelanjutan lahir dari founder yang paham model usahanya, piawai dalam menjalankan strategi, dan memiliki karakter kepemimpinan yang mampu beradaptasi dengan perubahan,” katanya.
Pendekatan tersebut semakin relevan di tengah lanskap bisnis yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian.
Dalam praktiknya, wirausaha tidak hanya dituntut piawai menyusun rencana, tetapi juga mampu mengambil keputusan di bawah tekanan, membaca risiko, dan membangun kolaborasi yang saling menguatkan. Inilah kompetensi yang menjadi pembeda antara bisnis yang sekadar tumbuh dan bisnis yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Pada puncak Final Season 16, Jonathan Holiyanto, pendiri Lean Lab, dinobatkan sebagai Best of The Best dan menerima hibah modal usaha sebesar Rp320 juta beserta pendampingan intensif. Lean Lab dikenal melalui inovasi selai bubuk sehat rendah lemak dan tinggi protein yang menjawab kebutuhan gaya hidup modern sekaligus efisien dalam distribusi dan penyimpanan.
Surjanto menilai Jonathan mencerminkan standar wirausaha yang dibutuhkan Indonesia ke depan.
“Jonathan menunjukkan keseimbangan antara pemahaman bisnis yang solid, eksekusi yang piawai, serta persona kepemimpinan yang adaptif dan kolaboratif. Inilah tipe wirausaha yang mampu tumbuh berkelanjutan dan memberi dampak luas bagi perekonomian,” jelasnya.
Secara keseluruhan, program ini menyalurkan hibah usaha total Rp2,5 miliar kepada wirausaha lintas sektor, mulai dari makanan dan minuman, teknologi, hingga kriya dan fesyen. Selain mendorong pertumbuhan usaha, pendampingan yang diberikan juga diarahkan untuk memperkuat tata kelola, keberlanjutan, dan kesiapan bisnis menghadapi skala yang lebih besar.
Baca juga: Menbud Fadli Zon Dorong Industri Budaya Jadi Mesin Ekonomi
Lebih jauh, penguatan wirausaha tidak dapat dilepaskan dari pembangunan ekosistem. Kolaborasi antara pelaku usaha, pemangku kebijakan, institusi pendidikan, hingga komunitas budaya menjadi kunci agar wirausaha dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan.
Pendekatan ini memperluas akses jejaring, membuka peluang pasar, sekaligus menanamkan nilai-nilai keberlanjutan dan tata kelola yang baik sejak tahap awal bisnis.
Surjanto menekankan bahwa keberlanjutan tidak boleh menjadi konsep yang hadir belakangan.
“Kami ingin prinsip keberlanjutan dan akuntabilitas menjadi DNA usaha sejak awal, bukan baru dipikirkan ketika bisnis sudah besar,” tegasnya. (*) Alfi Salima Puteri










