Poin Penting
- Pemanfaatan AI mempercepat analisis dan layanan, namun juga membuka celah serangan yang lebih canggih dan terarah
- Teknologi AI dimanfaatkan hacker untuk phishing yang lebih personal hingga ransomware yang terencana dengan timing krusial
- Perusahaan didorong tak hanya mencegah serangan, tetapi memastikan perlindungan data terintegrasi dan pemulihan bisnis yang cepat pasca-serangan.
Jakarta – Adopsi Artificial Intelligence (AI) semakin mendorong efisiensi di berbagai sektor, tal terkecuali di sektor finansial. Mulai dari percepatan analisis data hingga peningkatan kualitas layanan.
Namun, di balik manfaat tersebut, muncul risiko baru yang tak bisa diabaikan: ancaman siber yang semakin canggih dan terarah.
Seiring meningkatnya penggunaan AI, infrastruktur IT menjadi lebih kompleks dengan volume data dan konektivitas yang terus meluas. Kondisi ini secara langsung memperbesar permukaan serangan. Ironisnya, teknologi yang sama juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk mengotomatisasi dan mempertajam serangan.
Baca juga: Tren AI di Lembaga Keuangan
Indonesia Country Manager Synology Inc., Clara Hsu, mengingatkan bahwa perusahaan tidak boleh hanya fokus pada efisiensi.
“Banyak perusahaan fokus memanfaatkan AI untuk efisiensi, tapi lupa bahwa teknologi yang sama juga digunakan oleh hacker. Pertanyaannya bukan lagi apakah akan diserang, tapi kapan,” ujarnya, dikutip Rabu (15/4).
Dengan bantuan AI, serangan seperti phishing kini menjadi lebih personal dan sulit dideteksi. Bahkan, pelaku dapat masuk ke dalam sistem dan menunggu momen krusial untuk melancarkan serangan ransomware agar dampaknya maksimal.
“AI membuat serangan menjadi lebih cepat, lebih personal, dan lebih sulit dideteksi,” tambah Clara.
Menjawab tantangan ini, Synology Inc. mendorong pendekatan perlindungan data yang lebih terintegrasi melalui solusi seperti ActiveProtect.
Pendekatan ini memungkinkan pengelolaan backup lintas lingkungan dalam satu platform, sekaligus memperkuat keamanan melalui isolasi data, teknologi immutability, dan mekanisme air-gap agar data tetap aman meski sistem utama terdampak.
Baca juga: Di Era AI, Akuntan Tak Cukup Hanya Buat Laporan
Lebih jauh, pendekatan ini mencerminkan pergeseran menuju konsep cyber resilience. Di mana keberhasilan tidak lagi diukur dari kemampuan mencegah serangan semata, melainkan dari seberapa cepat bisnis dapat pulih dan kembali beroperasi normal.
“Di era sekarang, keamanan tidak cukup hanya mencegah. Yang lebih penting adalah memastikan bisnis tetap bisa berjalan dan pulih dengan cepat setelah serangan terjadi,” pungkas Clara.(*) Alfi Salima Puteri







