Poin Penting
- Destry Damayanti menekankan perempuan membutuhkan support system kuat, bukan sekadar emansipasi, untuk mengoptimalkan potensi.
- Perempuan Indonesia dinilai sudah kuat, dengan banyak yang menduduki posisi strategis, termasuk di sektor keuangan.
- Kunci sukses menurut Destry adalah pilihan hidup yang tepat, proses yang tulus, serta dukungan lingkungan seperti keluarga dan pasangan.
Surakarta – Malam Apresiasi Infobank 500 Most Outstanding Women 2026 digelar di Wisma Batari, Surakarta, Jumat (17/4), sebagai bentuk penghargaan kepada perempuan-perempuan berprestasi dari sektor keuangan, sektor riil, dan pejabat publik.
Acara bertema Women Art & Society: The Creative Power of Indonesian Women ini menghadirkan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, yang menyampaikan pandangan strategis sekaligus kisah inspiratif perjalanan hidupnya.
Destry langsung menohok dengan pernyataan yang tak biasa. Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan lagi emansipasi perempuan, melainkan emansipasi pria.
“Yang kita butuhkan sekarang bukan emansipasi perempuan tapi emansipasi pria. Karena tanpa support system yang lengkap kita perempuan akan sulit mengeluarkan potensi yang ada,” ujarnya.
Menurutnya, posisi perempuan di Indonesia sebenarnya sudah sangat kuat, termasuk di sektor keuangan. Ia menilai perempuan telah banyak menduduki jabatan strategis.
“Kalau emansipasi perempuan, Indonesia sudah sangat baik. Posisi apa yang perempuan tidak ada. Di perbankan banyak perempuan yang jadi direksi,” kata Destry.
Tapi, ia mengingatkan bahwa capaian itu tidak datang begitu saja. Ada peran besar dari lingkungan sekitar yang menjadi fondasi kesuksesan perempuan.
“Itu tidak lepas dari sistem yang mendukung kita, dari keluarga, dari pasangan. Tapi memang tidak mudah membangun sistem support yang kuat,” jelasnya.
Lebih jauh, Destry menekankan bahwa perempuan Indonesia sejak dulu sudah punya rekam jejak kuat dalam sejarah.
Ia menyinggung sosok Laksamana Malahayati hingga Kartini sebagai bukti bahwa perempuan mampu berjuang di berbagai bidang.
Dalam konteks modern, ia juga menyoroti kontribusi perempuan di sektor ekonomi, terutama UMKM yang lebih dari 60 persen dikelola perempuan.
Ia juga mengulas gaya kepemimpinan perempuan yang dinilainya punya keunggulan tersendiri.
Secara ilmiah, kata Destry, perempuan cenderung lebih detail dan memiliki pendekatan yang kolaboratif serta komunikatif. Hal ini membuat perempuan mampu menghadirkan warna berbeda dalam kepemimpinan, termasuk dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks.
Bagian paling menarik datang saat Destry membagikan kisah hidupnya. Ia bercerita bahwa sejak kecil sudah terbiasa dihadapkan pada pilihan.
“Hidup kita ini dipenuhi dengan pilihan. Dan kita tidak bisa memilih semuanya karena ada keterbatasan,” ungkapnya.
Dari latar belakang sebagai atlet renang dan tenis, ia akhirnya memilih tenis, lalu pada usia remaja harus menentukan antara menjadi atlet atau fokus sekolah.
“Saya putuskan sekolah ekonomi. Dari situ saya harus fokus menyukai ekonomi,” katanya.
Dari perjalanan itu, Destry belajar konsep opportunity cost yang kemudian menjadi pegangan hidupnya.
Ia menegaskan bahwa kesuksesan bukan semata soal ambisi besar, melainkan bagaimana seseorang menjalani proses dengan tulus dan realistis.
“Apa yang saya kerjakan, saya kerjakan dengan tulus, soal hasilnya seperti apa, itu kita serahkan kepada Tuhan,” tegasnya.
Ia pun menutup dengan pesan sederhana namun kuat untuk para perempuan Indonesia: menjadi diri sendiri dan memberi manfaat bagi orang lain adalah kunci utama menuju kesuksesan, di manapun itu, baik dunia kerja maupun keluarga. (*) Ari Nugroho







