Data Alternatif jadi Solusi Atasi Kesenjangan Akses Kredit

Data Alternatif jadi Solusi Atasi Kesenjangan Akses Kredit

Jakarta – Penilaian kredit tradisional di Indonesia masih sangat bergantung pada data konvensional, seperti riwayat kredit dan hubungan dengan perbankan formal. Namun, menurut laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)), sekitar 65 persen orang dewasa di Indonesia belum memiliki akses ke layanan keuangan formal.

Ketimpangan ini semakin nyata di daerah pedesaan, di mana infrastruktur perbankan masih terbatas, serta di kalangan perempuan, yang secara proporsional lebih banyak tergolong sebagai masyarakat unbanked.

Carey Anderson, CEO of 1datapipe menjelaskan, bagi lembaga jasa keuangan, kesenjangan ini membatasi pertumbuhan dan inovasi. Metode penilaian risiko yang usang, tingginya tingkat gagal bayar, serta keterbatasan data konsumen membuat mereka sulit menawarkan solusi kredit yang inklusif namun tetap berkelanjutan.

Dia melanjutkan, data alternatif, seperti penggunaan ponsel, pembayaran tagihan utilitas, aktivitas media sosial, dan transaksi e-commerce, menawarkan solusi transformatif dalam menilai perilaku keuangan di luar metrik tradisional.

Baca juga: Penyaluran Kredit UMKM BCA Tembus Rp123,8 T Sepanjang 2024, Naik 14,8 Persen

“Ketika dikombinasikan dengan teknologi analitik berbasis AI, sumber data ini memungkinkan lembaga keuangan menilai kelayakan kredit dengan lebih akurat dan inklusif,” jelasnya Carey dikutip 24 Februari 2025.  

Dia mencotohnya pemanfaatan data alternatif dalam perusahaan jasa keuangan. Data telekomunikasi, misalnya. Ini merupakan pola pembayaran dan frekuensi isi ulang pulsa yang mencerminkan kebiasaan pengeluaran individu.

Selanjutnya, tagihan utilitas. Di manariwayat pembayaran yang konsisten dapat menjadi indikator keandalan finansial.

“Contoh lainnya adalah transaksie-commerce. Ini merupakan tren pembelian digital yang memberikan gambaran menyeluruh tentang aktivitas keuangan,” kata Carey.

Menurutnya, dengan memanfaatkan data alternatif, lembaga keuangan dapat memperluas akses kredit bagi lebih dari 74 persen populasi Indonesia yang masih tergolong unbanked atau underbanked, sehingga membuka jalan menuju sistem keuangan yang lebih inklusif.

Di Indonesia, kata Carey, data alternatif semakin berkembang sebagai alat transformatif bagi lembaga keuangan dalam menjembatani kesenjangan kredit. Sumber data seperti penggunaan ponsel, pembayaran tagihan utilitas, dan transaksi e-commerce membuka wawasan baru tentang perilaku keuangan yang sering kali tidak terjangkau oleh metode tradisional.

Baca juga: BI Rate Tetap di 5,75 Persen, Bank Danamon Bidik 900 Ribu Unit Kredit Kendaraan 2025

“Dengan mengombinasikan data ini dengan AI dan algoritma machine learning, pemberi pinjaman dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kelayakan kredit, bahkan bagi individu tanpa riwayat kredit formal,” tambahnya.

Dengan memanfaatkan analitik berbasis AI dan data alternatif yang kaya, inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan tingkat persetujuan kredit sekaligus mengurangi risiko kredit macet dan keterlambatan pembayaran.

“Inklusi keuangan yang sejati bukan hanya tentang akses ke kredit, tetapi juga tentang menciptakan peluang bagi individu dan komunitas untuk berkembang—baik dalam memulai usaha, berinvestasi dalam pendidikan, maupun membangun masa depan yang lebih cerah,” tutupnya. (*)

Related Posts

Top News

News Update