Dari Sumba ke ASEAN, Kampung Prai Ijing Perkuat Ekosistem Ekonomi Lokal

Dari Sumba ke ASEAN, Kampung Prai Ijing Perkuat Ekosistem Ekonomi Lokal

Poin Penting

  • Kampung Prai Ijing/Tebara meraih ASEAN Sustainable Tourism Award 2026 dan mewakili Indonesia di Cebu, Filipina.
  • Pendapatan pariwisata Kampung Prai Ijing/Tebara mencapai Rp1,4 miliar pada 2025, didorong kenaikan wisatawan 67 persen serta pengembangan homestay dan UMKM tenun.
  • Pendampingan BCA Bakti menyeluruh dari penguatan SDM hingga literasi keuangan mendorong desa naik status menjadi Desa Maju dan lebih mandiri secara ekonomi.

Jakarta – Desa Wisata Kampung Prai Ijing/Tebara, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), kian menegaskan diri sebagai motor penggerak ekonomi lokal.

Berkat pengelolaan pariwisata berbasis budaya dan alam, desa ini tak hanya mendongkrak pendapatan warga, tetapi juga mengharumkan nama Indonesia di kancah regional.

Hal itu disampaikan Kepala Desa Tebara, Marthen Ragowino Bira, saat hadir dalam gelaran BCA Expoversary 2026 di ICE BSD, Tangerang, pada 5–8 Februari 2026.

Dalam sesi siniar di Mini Studio BCA, Kamis (5/2), Marthen mengaku bangga Kampung Prai Ijing/Tebara berhasil meraih ASEAN Sustainable Tourism Award 2026 di Cebu, Filipina, mewakili Indonesia.

Prestasi tersebut tak lepas dari keberhasilan desa dalam mengintegrasikan potensi budaya, alam, dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Melalui pendampingan Bakti BCA, desa ini mampu menciptakan model wisata yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga.

“Tidak hanya pendanaan, namun pemberdayaan juga menjadi faktor penting bagi perkembangan desa. Pemberdayaan itu harus disesuaikan dengan karakter desa masing-masing, termasuk dari sisi sosial, ekonomi, dan budaya. Di sinilah peran BCA melalui Bakti BCA menjadi sangat bermanfaat,” kata Marthen.

Baca juga: BCA Pastikan Rating Moody’s Tak Berdampak ke Kinerja Kredit

Dampaknya terlihat nyata. Sepanjang 2025, Kampung Prai Ijing mencatat pendapatan Rp1,4 miliar dari sektor pariwisata, seiring lonjakan jumlah wisatawan sebesar 67 persen.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh pengembangan homestay Prai Ijing, pusat kerajinan tenun Sumba, hingga spot-spot wisata berbasis lanskap alam dan budaya setempat.

Transformasi ekonomi itu turut mengerek status Desa Tebara menjadi Desa Maju. Namun, Marthen menegaskan capaian tersebut bukan hasil instan.

Proses panjang dilakukan melalui penguatan kelembagaan desa, perancangan paket wisata, serta optimalisasi potensi lokal dengan semangat gotong royong warga.

“Saya harap prestasi ini menjadi pemantik untuk mengembangkan diri, memperbaiki kekurangan, menambah kreativitas, dan menginspirasi desa lain untuk berinovasi, karena Desa Tebara tidak boleh maju sendiri. Semoga kolaborasi dengan Bakti BCA bisa menjadi contoh untuk desa-desa lain,” ujarnya.

Sebagai salah satu dari 28 Desa Bakti BCA, Kampung Prai Ijing/Tebara memperoleh pendampingan komprehensif, mulai dari peningkatan kapasitas SDM, penguatan atraksi wisata, pengelolaan layanan, literasi keuangan, hingga pemberdayaan UMKM dan perluasan akses pasar.

Baca juga: BCA Tetap Tambah Kantor Cabang saat Bank Lain Pangkas Jaringan, Ini Alasannya

Secara terpisah, EVP Corporate Communications & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menegaskan bahwa transformasi Kampung Prai Ijing menjadi bukti kontribusi nyata sektor perbankan dalam mendorong ekonomi desa berbasis keberlanjutan.

“Kami sadar pemberdayaan yang baik itu ketika dilakukan secara inklusif, melibatkan warga lokal itu sendiri. Pariwisata lokal memiliki potensi besar untuk tumbuh sebagai destinasi unggulan yang tidak hanya memikat wisatawan, tetapi juga menghadirkan nilai ekonomi, budaya, dan keberlanjutan bagi masyarakat. Melalui pembinaan Bakti BCA, kami berharap dapat memperkuat kapasitas serta membuka ruang kemajuan bagi desa-desa wisata,” jelas Hera. (*)

Related Posts

News Update

Netizen +62