Moneter dan Fiskal

Dampak Tarif Trump Sudah Masuk dalam Hitungan RAPBN 2026

Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyampaikan risiko dari dampak penerapan tarif impor sebesar 32 persen dari Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia sudah diperhitungkan dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Febrio Kacaribu menyebutkan, dalam penyusunan RAPBN 2026, pemerintah telah mempertimbangkan kondisi global, termasuk dampak dari kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Adapun, asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam RAPBN 2026 berada di kisaran 5,2 persen hingga 5,8 persen.

“Jadi ketika kita menyusun RAPBN 2026 kondisi globalnya termasuk terutama dampak dari tarif ini kan harus sudah kita masukkan. Makanya dalam persiapan kita untuk menetapkan range mulai dari pertumbuhannya 5,2 sampai 5,8 persen ini semuanya adalah hasil kombinasi dari risiko yang kita pantau secara global lalu termasuk kita melihat potensi yang kita miliki,” kata Febrio saat ditemui di DPR RI, dikutip, Jumat 11 Juli 2025.

Baca juga:  Edan! Trump Keluarkan Tarif Impor Lagi ke 8 Negara, Brasil Paling Tinggi

Febrio menambahkan, hubungan perdagangan Indonesia bersifat dinamis. Sehingga bila terjadi kendala dengan satu negara dalam jangka menengah, maka pemerintah perlu melakukan diversifikasi mitra dagang.

“Jadi kalaupun misalnya kita menghadapi kendala dengan satu negara dalam jangka menengah itu kita juga akan melihat pelaku usaha kita juga akan melakukan adjustment, ini yang sering disebut sebagai trade diversion. Jadi kalau satu negara memberikan hambatan maka tentu akan dilihat untuk peluang bagi negara-negara lain untuk menjadi tambahan tujuan ekspor kita,” pungkasnya.

Baca juga: Ketua Banggar DPR Minta Pemerintah Siapkan Opsi Hadapi Tarif Trump

Meski begitu, tambah Febrio, Indonesia memiliki potensi sumber pertumbuhan ekonomi baru di dalam negeri. Sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah akan mengoptimalkan program di sektor ketahanan pangan, energi, sektor pendidikan, investasi hingga hilirisasi untuk mendongkrak perekonomian.

“Jadi potensi pertumbuhan ekonomi 5,2 sampai 5,8 itu masih range yang sedang kita rancang untuk menyusun RAPBN 2026,” imbuhnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

KB Bank (BBKP) Balik Laba Rp66,59 Miliar di 2025, Ini Penopangnya

Poin Penting KB Bank balik laba Rp66,59 miliar di 2025 dari rugi Rp6,33 triliun pada… Read More

6 hours ago

Bank Mandiri Terbitkan Global Bond Pertama di Asia Tenggara Senilai USD750 Juta

Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More

6 hours ago

Rancangan Reformasi Pasar Modal Rampung, OJK Segera Temui Pimpinan MSCI

Poin Penting OJK rampungkan empat reformasi pasar modal untuk tingkatkan transparansi. OJK akan temui MSCI… Read More

7 hours ago

RI Raup Rp575 Triliun dari Jepang dan Korea Selatan, Ini Hasil Kunjungan Prabowo

Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More

7 hours ago

AAUI: Implementasi PSAK 117 Masih jadi PR Industri Asuransi Umum

Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More

8 hours ago

OJK Denda 233 Pelaku Pasar Modal di Kuartal I 2026, Capai Rp96 Miliar

Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More

8 hours ago