Dia mengungkapkan, kebijakan Trump yang akan segera mengeluarkan dua perintah eksekutif (executive order) untuk mencari penyebab defisit neraca perdagangan AS, akan lebih berdampak besar pada negara-negara yang memang struktur ekspornya lebih banyak terkait dengan nonkomoditas.
“Seperti Vietnam, Taiwan yang bisa jadi akan dicap sebagai negara currency manipulation. Indonesia lebih list expose terhadap dari sisi perdagangan,” ucap Nanang.
Dia menilai, Indonesia merupakan bukan target utama AS terkait dengan wacana Trump yang akan segera mengeluarkan dua perintah eksekutif, meski Indonesia menjadi satu dari 16 negara yang dituding melakukan perbuatan curang dalam kerangka kerja sama perdagangan, yang diperkirakan menyebabkan kerugian AS sebesar US$50 miliar.
“Indonesia bukan target utama dari kebijakan trump ini, karena struktur perdagangannya tidak seperti negara asia lainnya. Indonesia sebetulnya tidak terlalu besar kalau dengan AS perdagangannya. Jadi hemat saya impeknya ini tidak akan besar,” tegasnya. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Poin Penting IHSG dibuka melemah 0,89 persen ke level 7.214,17 pada awal perdagangan (9/4), dari… Read More
Poin Penting Harga emas di Pegadaian kembali naik dua hari beruntun pada 9 April 2026,… Read More
Poin Penting IHSG diproyeksikan masih berpeluang menguat ke kisaran 7.323–7.450, dengan asumsi telah menyelesaikan wave… Read More
Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More
Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More
Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More