Dia mengungkapkan, kebijakan Trump yang akan segera mengeluarkan dua perintah eksekutif (executive order) untuk mencari penyebab defisit neraca perdagangan AS, akan lebih berdampak besar pada negara-negara yang memang struktur ekspornya lebih banyak terkait dengan nonkomoditas.
“Seperti Vietnam, Taiwan yang bisa jadi akan dicap sebagai negara currency manipulation. Indonesia lebih list expose terhadap dari sisi perdagangan,” ucap Nanang.
Dia menilai, Indonesia merupakan bukan target utama AS terkait dengan wacana Trump yang akan segera mengeluarkan dua perintah eksekutif, meski Indonesia menjadi satu dari 16 negara yang dituding melakukan perbuatan curang dalam kerangka kerja sama perdagangan, yang diperkirakan menyebabkan kerugian AS sebesar US$50 miliar.
“Indonesia bukan target utama dari kebijakan trump ini, karena struktur perdagangannya tidak seperti negara asia lainnya. Indonesia sebetulnya tidak terlalu besar kalau dengan AS perdagangannya. Jadi hemat saya impeknya ini tidak akan besar,” tegasnya. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Poin Penting IHSG diprediksi bergerak variatif cenderung menguat dengan area support 7.715–7.920 dan resistance 8.325–8.530,… Read More
Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More
Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More
Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More
By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More