Poin Penting
- D-8 menargetkan perdagangan antaranggota mencapai USD500 miliar pada 2030
- Indonesia memimpin D-8 2026–2027 dengan fokus penguatan ekonomi halal
- D-8 Halal Expo 2026 ditujukan untuk mendorong perdagangan, investasi, dan kemitraan bisnis.
Jakarta – Di tengah ketidakpastian geopolitik global, negara-negara anggota Developing-8 Organization for Economic Cooperation (D-8) memperkuat kerja sama ekonomi untuk mengejar target perdagangan antaranggota sebesar USD500 miliar pada 2030.
Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta mengungkapkan perubahan lanskap geopolitik global membuat banyak negara mulai melakukan diversifikasi hubungan internasional, termasuk di bidang ekonomi. Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum bagi D-8 untuk memperkuat kolaborasi di antara negara-negara anggotanya.
“Kerja sama antarnegara sekarang jauh lebih kuat, terutama karena ada political will yang semakin kuat di antara para pemimpinnya. Ada perubahan strategi dalam cara pandang negara-negara D-8, terutama setelah situasi geopolitik global menjadi semakin tidak menentu. Semua negara kini melakukan diversifikasi hubungan internasionalnya, termasuk hubungan ekonomi,” ujar Anis, usai pembukaan D-8 Halal Expo Indonesia 2026 di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.
Baca juga: MUI Dorong Pembentukan Danantara Syariah untuk Perkuat Ekonomi Umat
Seperti diketahui, negara-negara D-8 terdiri dari Indonesia, Bangladesh, Iran, Malaysia, Mesir, Nigeria, Pakistan, Turki, serta Azerbaijan yang bergabung pada 2025. Sekretariat D-8 berkedudukan di Istanbul, Turki.
Menurut Anis, selain memiliki kesamaan sejarah dan identitas, negara-negara D-8 juga memiliki potensi ekonomi yang saling melengkapi.
Dari sisi teknologi, beberapa negara seperti Indonesia dan Turki dinilai memiliki keunggulan, sementara secara geografis anggota D-8 merepresentasikan kawasan-kawasan utama dunia Islam.
Anis menuturkan, nilai perdagangan intra-D-8 berada di kisaran USD150 miliar hingga USD160 miliar. Angka tersebut ditargetkan meningkat menjadi USD500 miliar pada 2030 melalui penguatan kerja sama ekonomi dan pengurangan berbagai hambatan perdagangan.
Kemudian, sebagai forum kerja sama ekonomi, D-8 memiliki kekuatan kEolektif yang besar dengan total populasi sekitar 1,3 miliar jiwa atau 16 persen dari populasi dunia, serta produk domestik bruto gabungan sekitar USD5,1 triliun.
“Delapan atau sembilan negara D-8 menjadi backbone karena populasinya sangat besar. Perlu dicatat juga bahwa sekitar 30 persen dari total 1,3 miliar penduduknya merupakan generasi muda berusia 15–29 tahun. Jadi negara-negara ini memiliki bonus demografi yang sangat baik,” tuturnya.
Tantangan Perdagangan
Meski demikian, Anis mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diselesaikan secara bertahap, mulai dari tarif, logistik, hingga regulasi agar target perdagangan tersebut dapat tercapai.
Indonesia sendiri memegang Keketuaan D-8 untuk periode 2026–2027. Selama masa kepemimpinan tersebut, penguatan industri dan ekonomi halal menjadi salah satu fokus utama, di samping isu generasi muda, peningkatan kerja sama antarnegara anggota, serta kolaborasi dalam penanggulangan bencana.
Sebagai bagian dari rangkaian Keketuaan Indonesia di D-8, pemerintah menyelenggarakan D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) 2026 di Senayan Tennis Indoor Stadium, Jakarta, pada 8–12 Juli 2026.
D-8 HEI diselenggarakan atas kolaborasi Kementerian Luar Negeri bersama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) dan Kadin Indonesia.
Baca juga: BEI Hadirkan Fitur Repo SBSN, Perkuat Likuiditas Pasar Keuangan Syariah
Pameran ini menjadi wadah bagi pelaku usaha, investor, dan pembuat kebijakan untuk memperkuat rantai nilai halal sekaligus membuka peluang perdagangan dan investasi di antara negara-negara anggota.
Mengusung tema “Strengthening D-8 Halal Economy Through International Collaboration”, kegiatan tersebut menghadirkan pameran dagang, business matching, serta forum diskusi yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, dan investor dari berbagai negara.
Adapun sektor yang menjadi fokus meliputi makanan dan minuman, fesyen, kosmetik, farmasi, pariwisata, keuangan syariah, hingga jasa digital.
Direktur Eksekutif KNEKS, Sholahudin Al Aiyub mengatakan penyelenggaraan D-8 Halal Expo dirancang tidak hanya sebagai ajang promosi, tetapi juga untuk menghasilkan kolaborasi bisnis yang konkret.
“Indonesia berupaya memfasilitasi lahirnya kemitraan bisnis, pertukaran pengetahuan, dan transaksi perdagangan yang konkret,” ujarnya, di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026. (*) Ayu Utami


