Cuaca Tak Menentu, Kinerja Fintech Lending Berpotensi Terganggu

Cuaca Tak Menentu, Kinerja Fintech Lending Berpotensi Terganggu

Poin Penting

  • Cuaca ekstrem dan bencana alam mendorong kenaikan risiko kredit fintech lending, tecermin dari lonjakan TWP90 pindar per November 2025.
  • OJK mencatat TWP90 naik ke 4,33%, dengan 24 fintech lending memiliki rasio wanprestasi di atas 5%, dipicu banjir di wilayah utara Sumatra.
  • Amartha memperkuat pendampingan dan restrukturisasi pinjaman UMKM, serta berkolaborasi dengan perbankan untuk membantu borrower terdampak bencana.

Jakarta – Kondisi cuaca dan iklim di Indonesia yang semakin sulit diprediksi berpotensi mengganggu kinerja perusahaan keuangan digital, khususnya fintech lending atau pinjaman daring (pindar).

Director of Digital Economy Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai perubahan cuaca dan iklim dapat memicu bencana alam yang berdampak langsung terhadap kemampuan bayar peminjam, seperti yang terjadi di wilayah utara Sumatra pada akhir 2025.

TWP90 Pindar Meningkat Akibat Bencana

Huda mengungkapkan adanya kenaikan tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) pindar dari Oktober ke November 2025. Kenaikan tersebut diduga berkaitan dengan banjir yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

“Kalau kita lihat, TWP90 dari 2 persen ke 4 persen, itu salah satunya disebabkan oleh bencana alam. Itu jadi salah satu faktor. Meskipun kita belum menghitung seberapa besar signifikansinya,” ujar Nailul pada Jumat, 23 Januari 2026.

Baca juga: Utang Pindar Warga RI Tembus Rp94,85 Triliun per November 2025, Naik 25,45 Persen

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, TWP90 pindar naik dari 2,76 persen pada Oktober 2025 menjadi 4,33 persen per November 2025. Pada periode tersebut, sebanyak 24 fintech lending mencatatkan TWP90 di atas 5 persen.

“Jadi, kalau kita berbicara tentang NPL atau TWP90, itu pasti akan meningkat ketika cuaca sedang tidak bagus,” lanjut Huda.

Amartha Perkuat Pendampingan Borrower

Dampak cuaca ekstrem juga dirasakan PT Amartha Mikro Fintek (Amartha), fintech lending yang fokus pada pembiayaan sektor produktif, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

CEO & Founder Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, mengakui kondisi tersebut sulit diprediksi. Oleh karena itu, Amartha memperkuat pendampingan terhadap borrower sebagai langkah mitigasi risiko kredit.

“Yang Amartha lakukan di sini, kami terus mendampingi mereka. Istilahnya early warning signal. Kami mendampingi mereka, agar kami tahu, kalau misalnya kondisinya lebih nggak bagus, next step-nya dari Amartha seperti apa,” kata Andi.

Baca juga: Amartha Salurkan Pembiayaan Rp13,2 Triliun Sepanjang 2025, Mayoritas ke Sektor Ini

Restrukturisasi Pinjaman Korban Banjir

Terkait bencana banjir di wilayah utara Sumatra, Andi memastikan Amartha turut berkontribusi dalam upaya pemulihan. Melalui Amartha.org atau Yayasan Amartha, perusahaan menyalurkan bantuan dan mendukung proses pemulihan pascabencana.

“Kami punya ‘impact arm’ yang membantu donasi dan recovery pasca bencana, melalui Amartha.org, atau Yayasan Amartha. Fokus kami sekarang sedang lagi memetakan, bagaimana kami membantu untuk reconstruct kondisi masyarakat setempat,” paparnya.

Selain itu, Amartha juga melakukan restrukturisasi pinjaman bagi borrower terdampak banjir dengan menggandeng lender, termasuk perbankan

Baca juga: Fundamental Kuat, Amartha Buka Peluang IPO

“Kalau ada bencana kayak gini, saya pastikan, Amartha sebagai platform, kita berkolaborasi dengan perbankan, untuk menyalurkan permodalan. Yang kami sudah lakukan sekarang itu, kami sudah mapping, mana yang dampaknya kecil, mana yang medium, mana yang berat,” terangnya.

Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar penyesuaian skema restrukturisasi pembiayaan sesuai profil risiko borrower terdampak. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Related Posts

News Update

Netizen +62