Poin Penting
- CIMB Niaga mencatat laba bersih Rp1,77 triliun pada kuartal I 2026, turun 2,22 persen yoy, dipicu penurunan pendapatan bunga dan kenaikan beban bunga yang menekan NII
- Permodalan dan likuiditas terjaga (CAR 25,3 persen, LDR 89,2 persen), dengan DPK tumbuh 2,3 persen yoy didorong CASA naik 12,2 persen sehingga rasio CASA mencapai 73,9 persen
- Penyaluran kredit naik 2,2 persen yoy menjadi Rp235,1 triliun, ditopang corporate banking, sementara kualitas aset terjaga dengan NPL rendah dan CoC di bawah 1 persen.
Jakarta – PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) membukukan laba bersih yang diatribusikan ke pemilik sebesar Rp1,77 triliun pada kuartal I 2026, turun 2,22 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp1,8 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, susutnya laba di kuartal I 2026 salah satunya dipicu penurunan pendapatan bunga 8,51 persen yoy menjadi Rp5,7 triliun. Ditambah lagi, beban bunga mengalami kenaikan 14,78 persen (yoy) menjadi Rp2,48 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) susut 3,01 persen yoy menjadi Rp3,22 triliun.
Meski demikian, bank bersandi BNGA ini tetap menjaga posisi permodalan dan likuiditas yang baik dengan capital adequacy ratio (CAR) dan loan to deposit ratio (LDR) masing-masing sebesar 25,3 persen dan 89,2 persen.
Baca juga: CIMB Niaga Target Kredit Tumbuh di Bawah 5 Persen hingga Akhir 2025, Ini Fokusnya
Sementara itu, total dana pihak ketiga (DPK) meningkat menjadi Rp260,1 triliun atau tumbuh 2,3 persen yoy. Ini didorong oleh pertumbuhan CASA sebesar 12,2 persen yoy menjadi Rp192,3 triliun, sehingga rasio CASA naik menjadi 73,9 persen.
Dari sisi intermediasi, CIMB Niaga menyalurkan total kredit Rp235,1 triliun, naik 2,2 persen yoy. Segmen corporate banking mendominasi dengan pertumbuhan 4,8 persen yoy. Disusul, Usaha Kecil Menengah (UKM) sebesar 1,2 persen yoy, serta consumer banking sebesar 0,2 persen yoy.
Pertumbuhan kredit atau pembiayaan ritel terutama didorong oleh pertumbuhan Kredit Pemilikan Mobil (KPM) yang meningkat 4,0 persen yoy.
Adapun total aset konsolidasian CIMB Niaga tercatat Rp368,2 triliun per 31 Maret 2026. Ini semakin memperkuat posisi CIMB Niaga sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia.
Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, capaian kinerja yang diraih perseroan didorong oleh pengelolaan biaya yang disiplin, serta pertumbuhan kredit yang selektif dengan dukungan pendanaan current account savings account (CASA) yang kuat dan mencapai rasio CASA tertinggi sebesar 73,9 persen, sehingga memperkuat kemampuan dalam menjaga margin.
Baca juga: CIMB Niaga Bidik Transaksi Rp45 Miliar di Cathay Travel Fair 2026
Kata Lani, perseroan juga mampu menjaga kualitas aset dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di bawah rata-rata industri, dan biaya kredit (cost of credit/CoC) yang tetap terjaga di bawah 1 persen.
“Ke depan, dengan kinerja imbal hasil yang tetap terjaga dan permodalan yang kuat untuk mendukung pertumbuhan di masa mendatang, kami akan terus memprioritaskan pertumbuhan fee-based income untuk memperkuat pendapatan inti, sekaligus menjaga margin yang baik melalui penguatan basis CASA dan pendanaan yang disiplin,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama




