Moneter dan Fiskal

Celios Ungkap Efek Positif Turunkan PPN ke 8 Persen untuk Ekonomi RI

Jakarta – Center of Economic and Law Studies (Celios) dalam hasil studinya melaporkan penurunan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11 persen menjadi 8 persen dapat meningkatkan kontribusi terhadap penerimaan pajak hingga Rp1 triliun per tahun.

Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar, menjelaskan bahwa riset ini disusun sebagai respons terhadap wacana kenaikan tarif PPN menjadi 12 persen.

Simulasi ekonomi berbasis model input-output menunjukkan bahwa penurunan tarif PPN justru berpotensi memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional.

“Kebijakan ini tidak hanya meningkatkan output ekonomi secara keseluruhan, tetapi juga memperkuat penyerapan tenaga kerja, mendorong surplus usaha, dan meningkatkan pendapatan rumah tangga,” ujarnya.

Baca juga: Celios Temukan Potensi Penerimaan Negara hingga Rp524 T Jika Pemerintah Lakukan Ini

Secara lebih spesifik, skenario penurunan tarif PPN menjadi 8 persen diproyeksikan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat sebesar 0,74 persen dan mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp133,65 triliun.

“Potensi penerimaan pajak bersih secara tidak langsung dari penurunan tarif PPN adalah Rp1 triliun per tahun,” ungkapnya.

Ia menambahkan, penurunan tarif PPN bukan semata langkah populis yang mengorbankan penerimaan negara dalam jangka pendek. Kebijakan ini, menurutnya, perlu menjadi momentum perombakan struktur pajak yang lebih seimbang.

Baca juga: PBB Membalas Surat Celios Soal Permintaan Audit Data Ekonomi dari BPS, Apa Isinya?

Kebijakan ini disebut sebagai investasi jangka panjang untuk memulihkan beban konsumsi masyarakat yang terpukul akibat kontraksi ekonomi.

Hal tersebut diharapkan dapat memperkuat daya beli rumah tangga, terutama kelas menengah bawah yang menjadi penopang utama konsumsi domestik.

Peningkatan konsumsi rumah tangga selanjutnya akan memacu pertumbuhan sektor ritel, produksi domestik, dan distribusi logistik.

“Akselerasi produktivitas ekonomi pada gilirannya akan menciptakan basis penerimaan negara yang lebih merata dan berkelanjutan,” tandasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Recent Posts

AAUI Ungkap Penyebab Premi Asuransi Umum Hanya Tumbuh 4,8 Persen di 2025

Poin Penting Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mencatat premi asuransi umum 2025 hanya naik 4,8% menjadi… Read More

12 hours ago

Total Klaim Asuransi Umum Naik 4,1 Persen Jadi Rp48,96 Miliar di 2025

Poin Penting Klaim dibayar asuransi umum 2025 naik 4,1 persen menjadi Rp48,96 miliar; lonjakan tertinggi… Read More

13 hours ago

Indonesia Diminta jadi Wakil Komandan Misi Gaza, Ini Pernyataan Prabowo

Poin Penting Presiden Prabowo Subianto menegaskan dukungan Indonesia terhadap perdamaian berkelanjutan di Palestina dengan solusi… Read More

15 hours ago

IHSG Ditutup di Zona Merah, Top Losers: Saham DGWG, SGRO, dan HMSP

Poin Penting IHSG ditutup turun 0,03 persen ke 8.271,76. Sebanyak 381 saham terkoreksi, 267 menguat,… Read More

16 hours ago

Pendapatan Premi Asuransi Umum Tumbuh 4,8 Persen Jadi Rp112,81 Miliar pada 2025

Poin Penting Pendapatan premi asuransi umum sepanjang 2025 naik 4,8% menjadi Rp112,81 miliar. Lini dengan… Read More

16 hours ago

Ekonom Permata Bank Proyeksi Kredit Perbankan Tumbuh 10 Persen di 2026

Poin Penting Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan kredit perbankan tumbuh sekitar 10 persen… Read More

16 hours ago