Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (Dirjen SEF Kemenkeu), Febrio Nathan Kacaribu, dalam acara Media Gathering Kemenkeu, di Jakarta, Kamis, 9 Oktober 2025. (Foto: Yulian Saputra)
Poin Penting
Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai perekonomian Indonesia pada akhir 2025 tetap menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tekanan global. Kondisi tersebut menjadi fondasi yang kuat bagi kinerja ekonomi nasional ke depan.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu mengatakan, perekonomian Indonesia di penutup 2025 tetap resilien, ditopang oleh aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta kinerja neraca perdagangan yang konsisten mencatatkan surplus.
“Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026,” ujar Febrio dalam keterangannya, Selasa, 6 Januari 2026.
Febrio merinci, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja positif pada akhir 2025. PMI Manufaktur Desember 2025 tercatat di level 51,2, menandai fase ekspansif selama lima bulan berturut-turut.
Menurutnya, kinerja positif tersebut didukung kuatnya permintaan domestik, peningkatan ketenagakerjaan, serta aktivitas pembelian bahan baku.
Selain itu, optimisme pelaku usaha juga menguat dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, mencerminkan keyakinan terhadap prospek sektor manufaktur ke depan.
Baca juga: INDEF Ungkap Strategi Ekonomi RI Tembus 6 Persen di Tengah Tekanan Fiskal
Dari sisi global, aktivitas manufaktur negara mitra utama Indonesia juga berada di zona ekspansif, seperti Amerika Serikat (51,8), China (50,1), dan India (55,7).
Di kawasan ASEAN, PMI manufaktur Thailand (57,4) dan Malaysia (50,1) turut menguat, memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.
Febrio juga melihat, neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mencatat surplus USD2,66 miliar, melanjutkan tren surplus sejak Mei 2020.
Secara kumulatif Januari-November 2025, neraca perdagangan membukukan surplus USD38,54 miliar, meningkat USD9,30 miliar (ctc).
Adapun ekspor sepanjang Januari-November 2025 tercatat sebesar USD256,56 miliar, meningkat 5,61 persen (ctc). Kenaikan ekspor terutama disumbang sektor industri pengolahan dengan kontribusi 10,41 persen, yang mencerminkan meningkatnya nilai tambah ekspor nasional.
Sementara itu, impor tercatat USD218,02 miliar, naik 2,03 persen (ctc). Peningkatan impor terutama berasal dari barang modal dengan kontribusi 3,28 persen, sejalan dengan aktivitas produksi yang ekspansif
Baca juga: Nilai Ekspor RI hingga November 2025 USD256,56 Miliar, Naik 5,61 Persen
Sementara itu, impor pada periode yang sama tercatat sebesar USD218,02 miliar, naik 2,03 persen (ctc). Peningkatan impor terutama berasal dari barang modal dengan kontribusi 3,28 persen, sejalan dengan aktivitas produksi yang ekspansif.
“Ke depan, dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama akan terus diperkuat untuk mengantisipasi berbagai dinamika global,” imbuh Febrio.
Page: 1 2
Poin Penting Tugure meraih Best Public Relations 2026 di ajang IPRA berkat strategi komunikasi ketahanan… Read More
Poin Penting OJK dan SRO akan menaikkan ketentuan free float minimum menjadi 15 persen guna… Read More
Poin Penting IHSG anjlok hampir 15 persen sejak Rabu (28/1/2026) hingga awal sesi I Kamis… Read More
Poin Penting Pemerintah siapkan diskon transportasi dan tarif tol jelang Lebaran 2026 untuk dukung daya… Read More
Jakarta - Implementasi asuransi wajib bencana di Indonesia membutuhkan sejumlah elemen kunci dan kondisi pendukung agar… Read More
Poin Penting Singapura memperketat skrining bandara dengan pemeriksaan suhu bagi penumpang dari wilayah terdampak virus… Read More