Poin Penting
- BNI Sekuritas menggelar edukasi literasi keuangan bagi 60 kepala sekolah dan guru di DKI Jakarta sebagai bagian dari program TJSL dan kolaborasi dengan Yayasan Emmanuel
- Program membekali peserta dengan pengelolaan keuangan, investasi pasar modal, hingga simulasi investasi melalui investment games berbasis data historis
- BNI Sekuritas berharap peningkatan literasi keuangan dapat memperkuat ketahanan finansial tenaga pendidik dan mendorong partisipasi masyarakat di pasar modal.
Jakarta – PT BNI Sekuritas terus berupaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat melalui edukasi kepada tenaga pendidik.
Kali ini, BNI Sekurutas menggelar program literasi keuangan bagi 60 kepala sekolah dan guru di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Jumat (17/7).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BNI Sekuritas sekaligus hasil kolaborasi dengan Yayasan Emmanuel dalam rangkaian Technology Integration in Education Programme (TIEP).
Baca juga: BNI Sekuritas jadi Arranger Merger MORA-MyRepublic, Nilai Transaksi Rp20 Triliun
Direktur Operasional sekaligus Pembina CSR BNI Sekuritas, Yoga Mulya, mengatakan program ini merupakan kelanjutan dari TIEP yang sebelumnya berfokus pada peningkatan kompetensi tenaga pendidik di bidang kecerdasan buatan (AI), literasi digital, numerasi, computational thinking, hingga coding.
Kini, BNI Sekuritas memperluas kolaborasi dengan menghadirkan edukasi pengelolaan keuangan dan investasi sebagai bekal bagi para guru dalam membangun kesejahteraan finansial.
“Melalui program ini, kami hadir untuk berbagi pemahaman mengenai pengelolaan keuangan dan investasi di pasar modal. Kami ingin tumbuh bersama, ketika BNI Sekuritas berkembang, kami juga ingin literasi keuangan dan partisipasi masyarakat di pasar modal Indonesia ikut berkembang. Semangat itulah yang mendorong kami untuk terus berkontribusi melalui edukasi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Yoga dikutip 20 Juli 2026.
Program ini dinilai relevan dengan kondisi literasi keuangan nasional. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2025, indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan telah menyentuh 80,51 persen.
Data tersebut menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara akses terhadap layanan keuangan dengan pemahaman masyarakat dalam mengelola keuangan secara bijak.
Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh materi yang bersifat aplikatif, mulai dari pengelolaan keuangan sehari-hari, penyusunan rencana keuangan jangka panjang, investasi di pasar modal, hingga pemanfaatan layanan keuangan digital secara aman dan bertanggung jawab.
BNI Sekuritas juga menghadirkan investment games yang memungkinkan peserta melakukan simulasi investasi menggunakan data historis pergerakan pasar selama lebih dari satu dekade.
Melalui simulasi tersebut, para guru diajak memahami dinamika pasar sekaligus pentingnya berinvestasi dengan perspektif jangka panjang.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Urip Tarsam, mengapresiasi kolaborasi antara dunia pendidikan dan sektor jasa keuangan tersebut.
“Untuk mewujudkan perubahan yang baik di dunia pendidikan, baik bagi siswa maupun para guru, dibutuhkan kerja sama yang solid. Keberhasilan tidak diukur dari kemajuan satu sekolah semata, tetapi dari kolaborasi berbagai pihak dalam mencapai tujuan bersama,” ujarnya.
Baca juga: BNI Sekuritas Ramal BI Rate Hanya Dipangkas 25 Bps di 2026
Ke depan, BNI Sekuritas menegaskan akan terus memperluas jangkauan edukasi keuangan yang inklusif seiring pesatnya perkembangan layanan keuangan digital.
Dengan meningkatnya literasi keuangan, para tenaga pendidik diharapkan mampu membangun ketahanan finansial, mengambil keputusan investasi secara lebih bijak, serta mencapai tujuan keuangan jangka panjang. (*)


