Poin Penting
- Tugure menggelar sharing session tentang strategi cost containment asuransi kesehatan bersama delapan mitra asuransi di Bandung
- Pemanfaatan AI dan Machine Learning dinilai efektif menekan fraud serta meningkatkan efisiensi pengelolaan klaim kesehatan
- Cost containment diperlukan untuk menjaga keberlanjutan asuransi kesehatan di tengah inflasi medis dan lonjakan klaim.
Jakarta – PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kapabilitas pelaku industri perasuransian melalui kegiatan sharing session yang diselenggarakan oleh Tugure Academy.
Pada kegiatan kali ini, Tugure mengangkat tema “Cost Containment: High Severity – High Frequency” yang membahas strategi pengendalian biaya dalam asuransi kesehatan di tengah meningkatnya tantangan industri.
Kegiatan yang diselenggarakan di Bandung tersebut diikuti oleh delapan mitra usaha Tugure dari perusahaan asuransi sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi, meningkatkan kompetensi, serta mempererat hubungan bisnis.
Sharing session menghadirkan Praktisi Cybertech, Andang Nugroho, CISSP (Certified Information Systems Security Professional) dan dr. Kiki Oditya Gunawardhana, Group Head Life PT Tugu Reasuransi Indonesia, sebagai pembicara.
Baca juga: Komitmen pada Tata Kelola dan Manajemen Risiko Antarkan Tugu Insurance Raih GCG Awards 2026
Dalam paparannya, Andang Nugroho menyoroti bahwa transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bagi perusahaan asuransi untuk menjawab perubahan perilaku masyarakat, perkembangan teknologi, serta meningkatnya kompleksitas risiko kesehatan.
Di sisi lain, tingkat penetrasi asuransi di Indonesia yang masih relatif rendah, di angka 2,7 persen, menunjukkan bahwa peluang pertumbuhan industri masih terbuka lebar.
Namun demikian, peningkatan premi asuransi kesehatan dan tingginya pemanfaatan layanan kesehatan belum sepenuhnya diikuti dengan peningkatan profitabilitas industri.
Meningkatnya frekuensi maupun nilai klaim kesehatan memberikan tekanan terhadap kinerja perusahaan asuransi, sehingga strategi cost containment menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga efisiensi operasional dan keberlanjutan bisnis.
Menurut Andang, pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (ML) dapat menjadi solusi dalam mengendalikan praktik waste, abuse, dan fraud yang selama ini menjadi salah satu penyebab meningkatnya biaya klaim.
Teknologi tersebut, kata Andang, memungkinkan perusahaan mengidentifikasi pola klaim yang tidak wajar, mendeteksi transaksi anomali secara lebih cepat, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
“Di tengah karakteristik klaim kesehatan yang semakin didominasi oleh kasus high severity dan high frequency, industri asuransi perlu bertransformasi dari pendekatan reaktif menjadi prediktif. Pemanfaatan AI dan Machine Learning memungkinkan perusahaan mendeteksi anomali lebih dini, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis secara lebih efektif,” ujar Andang Nugroho.
Selain meningkatkan efektivitas pengelolaan klaim, implementasi AI dan ML juga memberikan manfaat dalam proses underwriting, analisis profitabilitas produk dan pelanggan, optimalisasi kerja sama dengan rumah sakit maupun Third Party Administrator (TPA), hingga pengembangan strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran.
Pada sesi berikutnya, dr. Kiki Oditya Gunawardhana menyampaikan materi bertajuk “Cost Containment: Kunci Keberlanjutan Asuransi Kesehatan Indonesia.”
Baca juga: Tugure Gelar Padel Tournament 2026, Pererat Kolaborasi Pelaku Industri Asuransi
Ia menegaskan bahwa tujuan utama cost containment bukanlah membatasi akses peserta terhadap layanan kesehatan, melainkan memastikan manfaat asuransi tetap dapat diberikan secara berkelanjutan di tengah meningkatnya inflasi medis, tingginya loss ratio, praktik fraud, serta kompetisi harga di industri asuransi kesehatan.
“Cost containment tidak dimaksudkan untuk mengurangi hak peserta atas layanan kesehatan, tetapi untuk memastikan manfaat asuransi tetap dapat dinikmati secara berkelanjutan oleh seluruh pemegang polis di tengah tekanan inflasi medis dan peningkatan biaya kesehatan,” jelas dr. Kiki Oditya Gunawardhana. (*)


