Poin Penting
- BTPN Syariah menargetkan pertumbuhan laba double digit hingga mid double digit pada 2026.
- NPF turun menjadi 2,7 persen pada Juni 2026 dari sebelumnya 3,9 persen.
- Bank menyiapkan sumber pertumbuhan baru lewat pembiayaan individual berbasis soft collateral.
Jakarta – PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPN Syariah) optimistis dapat mencatatkan pertumbuhan laba double digit hingga akhir 2026. Optimisme ini ditopang oleh perbaikan kualitas pembiayaan serta pengembangan sejumlah sumber pertumbuhan baru
melalui pembiayaan individual berbasis soft collateral.
Direktur BTPN Syariah, Fachmy Achmad, mengatakan bank memberikan guidance pertumbuhan earnings secara tahunan hingga akhir 2026 berada di kisaran double digit hingga mid double digit.
“Bank memberikan guidance bahwa pertumbuhan laba atau earnings sampai dengan akhir tahun secara year-on-year itu bisa tumbuh double digit, kurang lebih atau mid double digit,” ujar Fachmy dalam Public Expose BTPN Syariah, secara virtual, Senin, 7 September 2026.
Baca juga: BTPN Syariah Bukukan Laba Rp655 Miliar di Semester I 2026
Optimisme juga didukung perbaikan kualitas pembiayaan. Fachmy menyebut sejumlah early indicator pembiayaan selama 2026 berada di kisaran 0,5 persen sampai 0,6 persen, membaik dibandingkan sebelumnya yang sempat berada di atas 1 persen.
Sebagai informasi, hingga semester I 2026, BTPN Syariah membukukan laba bersih Rp655 miliar. Asetnya tumbuh 8 persen secara tahunan menjadi Rp23 triliun, sementara pembiayaan meningkat 9 persen menjadi Rp11 triliun.
Sementara itu, rasio pembiayaan bermasalah atau Non Performing Financing (NPF) BTPN Syariah pada Juni 2026 turun menjadi 2,7 persen dari sebelumnya 3,9 persen.
“Angka NPF BTPN Syariah juga terus mengalami penurunan, terlihat angka NPF posisi bulan Juni mencapai 2,7 persen, di mana sebelumnya pernah mencapai 3,9 persen,” tambah Fachmy.
Perbaikan kualitas pembiayaan pun terlihat dari tingkat pembayaran tepat waktu nasabah yang kini mencapai sekitar 95 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang mendukung optimisme BTPN Syariah terhadap pertumbuhan bisnis hingga akhir tahun.
Kembangkan Sumber Pertumbuhan Baru
Di tengah perbaikan kualitas pembiayaan, BTPN Syariah tetap berhati-hati dalam mengembangkan bisnis utama di segmen mass market yang menggunakan skema pembiayaan tanpa agunan atau unsecured.
Baca juga: BTPN Syariah Ajak 382 Nasabah dan Karyawan Umrah Bareng Satu Pesawat
Pada saat yang sama, BTPN Syariah mulai mengembangkan sumber pertumbuhan baru melalui pembiayaan individual dengan model soft collateral.
Fachmy menuturkan pengembangan bisnis tersebut menunjukkan perkembangan signifikan, tercermin dari jumlah titik layanan yang meningkat dari sembilan titik pada awal pengembangan menjadi sekitar 60 titik saat ini.
“Bisnis utama kami yang unsecured, kita jaga dengan pertumbuhan yang hati-hati, sedangkan untuk pembiayaan yang soft collateral, kita tumbuh dengan membuka titik lebih banyak lagi,” tuturnya.
Menurut Fachmy, strategi ini menjadi bagian dari upaya BTPN Syariah melakukan diversifikasi pembiayaan dengan tetap menjaga risiko.
Buyback Rp1 Triliun
Di sisi lain, BTPN Syariah memastikan rencana pembelian kembali saham atau share buyback senilai Rp1 triliun tidak akan mengganggu kemampuan perseroan dalam menyalurkan pembiayaan.
Fachmy mengungkapkan, posisi permodalan dan likuiditas bank masih sangat kuat. Hingga Juni 2026, Capital Adequacy Ratio (CAR) BTPN Syariah berada di sekitar 59 persen, sementara likuiditas bank mencapai sekitar Rp11 triliun.
“Dengan dua kondisi tersebut tentunya rencana buyback ini tidak akan mengganggu kemampuan perusahaan dalam hal menyalurkan pembiayaan ke segmen ultra mikro ataupun mikro,” ungkapnya.
Baca juga: BTPN Syariah Umumkan Rencana Buyback Saham Rp1 Triliun
Rencana buyback tersebut akan terlebih dahulu dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 13 Oktober 2026. (*) Ayu Utami


