Poin Penting
- BTN mencatat laba Rp1,1 triliun pada Q1 2026, naik 22,6 persen yoy, ditopang transformasi bisnis, inovasi, dan dukungan pemerintah pada sektor perumahan
- Penyaluran kredit mencapai Rp400,63 triliun (+10,3 persen yoy) dengan KPR sebagai penopang utama, sementara DPK tumbuh 9,9 persen yoy menjadi Rp422,63 triliun dengan CASA 50,2 persen
- Cost of fund turun ke 3,0 persen, aset naik 10,5 persen menjadi Rp517,54 triliun, serta pengguna Bale by BTN melonjak 67,5 persen yoy menjadi 4 juta.
Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2026 dengan membukukan laba bersih Rp1,1 triliun atau tumbuh 22,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan Rp904 miliar pada periode yang sama tahun lalu
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyebutkan, capaian tersebut ditopang oleh transformasi bisnis, inovasi, serta dukungan pemerintah terhadap sektor perumahan nasional.
Menurutnya, keberpihakan pemerintah terhadap sektor perumahan, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah, menjadi salah satu fondasi penting bagi pertumbuhan kinerja perseroan.
“Kami berterima kasih atas dukungan pemerintah yang menempatkan sektor perumahan sebagai program prioritas nasional,” ujarnya dalam konferensi pers paparan kinerja kuartal I 2026 di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Baca juga: BTN Siapkan Mesin Pertumbuhan Kredit Baru
Dari sisi intermediasi, lanjut Nixon, BTN mampu menyalurkan kredit Rp400,63 triliun pada kuartal I 2026 atau naik 10,3 persen yoy dari Rp363,11 triliun. Jika dirinci, segmen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) masih menjadi penopang utama kineja kredit perseroan.
“KPR subsidi tercatat sebesar Rp193,55 triliun atau tumbuh 7,7 persen yoy, sedangkan KPR non-subsidi mencapai Rp112,56 triliun atau naik 5,4 persen yoy,” jelas Nixon.
Adapun dari sisi funding, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BTN juga meningkat 9,9 persen yoy menjadi Rp422,63 triliun. Porsi dana murah atau current account saving account (CASA) tercatat mencapai Rp212,11 triliun atau sekitar 50,2 persen dari total DPK.
Tak hanya dari sisi intermediasi yang moncer, BTN juga mampu menekan efisiensi yang tercermin dari penurunan biaya dana (cost of fund/CoF) menjadi 3,0 persen dari sebelumnya 4,0 persen.
Efisiensi tersebut turut menopang peningkatan total aset BTN yang tumbuh 10,5 persen yoy menjadi Rp517,54 triliun pada akhir Maret 2026.
Baca juga: BTN Siapkan Bundling KPR, Bantu Nasabah Penuhi Kebutuhan Hunian hingga Gaya Hidup
Sementara transformasi digital perseroan melalui aplikasi Bale by BTN turut menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hingga kuartal I 2026, jumlah pengguna mencapai 4 juta atau melonjak 67,5 persen yoy.
“Kinerja positif tersebut mencerminkan peran perseroan sebagai motor pembiayaan perumahan nasional, sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di tengah dinamika industri perbankan,” tutup Nixon. (*)
Editor: Galih Pratama







