Poin Penting
- Laba bersih BRI Februari 2026 mencapai Rp7,73 triliun, tumbuh 17,12 persen yoy dari Rp6,60 triliun.
- Penyaluran kredit sebesar Rp1.346,16 triliun, naik 10,49 persen yoy dan melampaui target pertumbuhan tahunan 7–9 persen
- Kinerja intermediasi solid: NII naik 4,84 persen yoy jadi Rp19,14 triliun, DPK tumbuh 9,26 persen jadi Rp1.508,84 triliun, dan aset meningkat 6,46 persen yoy menjadi Rp1.983,03 triliun.
Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membukukan laba bersih tahun berjalan secara bank only pada Februari 2026 sebesar Rp7,73 triliun.
Angka ini meningkat 17,12 persen secara tahunan (year on year/yoy) bila dibandingkan dengan periode sama tahun lalu atau Februari 2025 sebesar Rp6,60 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan BRI, penyaluran kredit BRI masih tumbuh double digit. Per Februari 2026 kredit yang disalurkan oleh bank yang berfokus pada UMKM ini mencapai Rp1.346,16 triliun, naik 10,49 persen dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama Rp1.218,39 triliun. Capaian di atas target tahunan perseroan yang berada di level 7-9 persen di 2026.
Baca juga: Transaksi Qlola by BRI Tembus Rp2.141 Triliun hingga Februari 2026
Realisasi kredit itu mengalir ke kantong BBRI sebagai pendapatan bunga yang mencapai Rp25,88 triliun atau turun 1,25 persen yoy, dibandingkan Januari 2025 yang senilai Rp26,21 triliun.
Sementara, beban bunga juga mengalami penurunan 15,22 persen yoy menjadi Rp6,74 triliun. Sehingga, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BRI menjadi Rp19,14 triliun, meningkat 4,84 persen yoy dari Februari 2025 yang senilai Rp18,25 triliun.
Baca juga: BRI Salurkan KPR Subsidi Rp16,79 Triliun hingga Februari 2026
Dari sisi penghimpunan, dana pihak ketiga (DPK) BRI terkumpul Rp1.508,84 triliun di Februari 2026, naik 9,26 persen dibanding tahun sebelumnya pada periode sama. Jika dirinci, komposisi giro Rp428,89 triliun, tabungan Rp588,38 triliun, dan deposito Rp491,57 triliun.
Sejalan dengan kinerja tersebut, total aset BRI naik 6,46 persen yoy dari Rp1.862,75 triliun pada Februari 2025 menjadi Rp1.983,03 triliun pada Februari 2026. (*)
Editor: Galih Pratama










