Breaking News! IHSG Dibuka Ambles 6 Persen Lebih ke Level 8.381

Breaking News! IHSG Dibuka Ambles 6 Persen Lebih ke Level 8.381

Poin Penting

  • HSG ambles 6,67 persen ke level 8.381,01 pada pembukaan perdagangan 28 Januari 2026, dengan nilai transaksi Rp2,37 triliun dan volume 3,61 miliar saham.
  • Sentimen MSCI jadi pemicu utama, setelah MSCI membekukan sejumlah perubahan indeks untuk Indonesia, termasuk kenaikan FIF, NOS, serta penambahan konstituen hingga review Februari 2026.
  • Isu transparansi dan investability mengemuka, MSCI menilai pasar Indonesia masih menghadapi masalah struktur kepemilikan dan potensi perdagangan terkoordinasi.

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik dibuka merosot tajam ke level 8.381,01 dari posisi 8.980,23 atau melemah 6,67 persen pada pembukaan perdagangan pagi ini pukul 9:00 WIB (28/1).

Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan pasar saham hari ini, sebanyak 3,61 miliar saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 185 ribu kali, serta total nilai transaksi mencapai Rp2,37 triliun. 

Kemudian, tercatat terdapat 66 saham terkoreksi, 427 saham menguat dan 161 saham tetap tidak berubah.

Baca juga: IHSG Rawan Tekoreksi, Saham BRPT, INET hingga PGEO Jadi Rekomendasi

Pelemahan IHSG dipicu oleh sentimen MSCI pada Selasa (27/1) yang mengumumkan akan menerapkan perlakuan sementara untuk pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan terkait indeks review, termasuk indeks review Februari 2026).

Adapun perlakuan sementara tersebut di antara lain: 

  • Pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS)
  • Pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI)
  • Pembekuan perpindahan naik antar–indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

MSCI menjelaskan bahwa perlakuan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability), sembari memberi waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan perbaikan transparansi.

Sebelumnya, MSCI pada Oktober 2025 mengumumkan tengah meminta masukan kepada para pelaku pasar terkait rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang dipublikasikan oleh KSEI sebagai tambahan referensi dalam menghitung free float saham emiten Indonesia.

MSCI menyebut bahwa berdasarkan hasil konsultasi dengan para pelaku pasar, para investor menyoroti permasalahan fundamental terkait investability di pasar Indonesia masih dapat berlanjut akibat kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran atas kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu proses pembentukan harga yang wajar.

Baca juga: Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI, Apa Dampaknya bagi Pasar Saham?

Untuk mengatasi sebagian kekhawatiran tersebut, MSCI menjelaskan bahwa pasar Indonesia memerlukan informasi struktur kepemilikan saham yang lebih rinci dan reliable, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan yang tinggi guna mendukung penilaian free float dan investability yang kuat. 

MSCI menambahkan, jika progres untuk mencapai peningkatan transparansi yang diperlukan tidak tercapai hingga Mei 2026, MSCI akan menilai ulang status aksesibilitas pasar Indonesia. (*)

Editor: Galih Pratama

Related Posts

News Update

Netizen +62