Poin Penting
- Kelompok transportasi mengalami inflasi 0,41 persen saat Ramadan–Lebaran 2026, dengan kontribusi 0,05 persen terhadap inflasi nasional
- Secara historis, inflasi transportasi selalu terjadi saat Ramadan–Lebaran dalam 5 tahun terakhir, kecuali pada 2025, dengan kecenderungan lebih tinggi saat Lebaran
- Pendorong utama inflasi berasal dari bensin (0,04 persen) dan tarif angkutan antarkota (0,03 persen), sementara diskon tarif transportasi menahan inflasi lewat deflasi angkutan udara (-0,03 persen).
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi inflasi pada kelompok transportasi di momen Ramadan dan Lebaran 2026 sebesar 0,41 persen dengan andil 0,05 persen terhadap inflasi utama.
Secara historis dalam lima tahun terakhir, kelompok transportasi selalu mengalami inflasi pada setiap momen hari besar keagamaan tersebut, kecuali pada 2025.
“Dalam lima tahun terakhir, pada setiap momen Ramadan dan Lebaran selalu terjadi inflasi di kelompok transportasi, kecuali pada Ramadan dan Lebaran 2025,” ujar Ateng Hartono, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, dalam rilis BPS, Rabu 1 April 2026.
Baca juga: Inflasi Maret 2026 Capai 0,41 Persen, Harga Ikan dan Daging Ayam Jadi Pemicu
Ateng menjelaskan, pada umumnya inflasi kelompok transportasi lebih tinggi pada momen Lebaran dibandingkan dengan awal Ramadan, kecuali pada 2022 dan 2025.
Dia menyebutkan, komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah komoditas bensin dan tarif angkutan antarkota dengan andil inflasi terhadap inflasi umum masing-masing sebesar 0,04 persen dan 0,03 persen.
Meski demikian, terdapat komoditas pada kelompok transportasi yang menjadi peredam inflasi yaitu tarif angkutan udara, dengan andil deflasi terhadap inflasi umum sebesar 0,03 persen.
Selain tarif angkutan udara, terdapat juga beberapa komoditas yang meredam inflasi atau mengalami deflasi diantaranya, tarif jalan tol sebesar 0,87 persen, tarif angkutan laut 7,45 persen, tarif ASDP 3,17 persen, dan kereta api sebesar 3,18 persen.
“Deflasi ini terjadi seiring dengan penerapan stimulus ekonomi berupa diskon tarif transportasi di masa Lebaran-Idulfitri 2026,” ungkapnya.
Baca juga: Impor RI Naik 14,44 Persen Capai USD42,09 Miliar di Januari-Februari 2026
Adapun BPS mencatat pada Maret 2026 terjadi inflasi sebesar 0,41 persen secara bulanan (mtm). Pada kelompok pengeluaran, penyumbang inflasi terbesar pada Maret 2026 terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi 0,7 persen, dengan memberikan andil 0,32 persen terhadap inflasi.
Kemudian, komoditas lain yang memberikan andil inflasi adalah bensin dengan andil 0,04 persen, dan tarif angkutan antarkota sebesar 0,03 persen.
Sedangkan, komoditas yang memberikan andil deflasi pada Maret 2026 antara lain, tarif angkutan udara dan emas perhiasan dengan andil masing-masing 0,03 persen. (*)
Editor: Galih Pratama










