Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Bali, I Nyoman Sudharma (foto: M.ibrahim)
Poin Penting
Jakarta – Di tengah tantangan ekonomi global dan domestik, PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali percaya diri (pede) menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 9-9,5 persen pada 2026.
Direktur Utama BPD Bali, I Nyoman Sudharma mengatakan, target pertumbuhan kredit tersebut telah disesuaikan dengan rencana bisnis bank yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Tahun ini kita menargetkan tumbuh 9,5 persen, sesuai dengan rencana bisnis bank yang telah kita kirim ke OJK,” ujarnya, di Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026.
Baca juga: Genjot Portofolio Bisnis, TRIPA Perkuat Kolaborasi dengan Bank BPD Bali
Untuk mencapai target tersebut, BPD Bali memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak dan mengoptimalkan skema transfer risk atau pengalihan risiko.
Strategi ini memungkinkan bank mengelola risiko konsentrasi, potensi gagal bayar, hingga kerugian lainnya tanpa harus menanggung seluruh beban finansial secara langsung.
Nyoman pede target pertumbuhan kredit dapat tercapai seiring membaiknya kinerja sektor pariwisata Bali sepanjang 2025.
Optimisme tersebut turut ditopang oleh kebijakan “Ekonomi Care Bali“, yang merupakan inisiatif pengembangan ekonomi Bali yang inklusif dan berfokus pada sektor care economy, khususnya pariwisata.
“Dengan konsep ini, BPD Bali yakin bisa mencapainya. Karena di tahun 2025 kita targetkan di 9 persen, tetapi kita bisa tumbuh di 9-10 persen,” bebernya.
Baca juga: Dirut Bank BPD Bali I Nyoman Sudharma Masuk Daftar Top 100 CEO 2025
Sepanjang 2025, BPD Bali membukukan laba sebesar Rp1.050,68 miliar atau tumbuh 19,60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh peningkatan aset sebesar 7,68 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp41.257 miliar.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit Bank BPD Bali mencapai Rp24.974 miliar atau tumbuh 9,39 persen. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,24 persen menjadi Rp33.852 miliar dari sebelumnya Rp32.168 miliar
Kinerja positif tersebut diiringi dengan perbaikan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat menurun menjadi 0,83 persen dari sebelumnya 0,92 persen.
Baca juga: Waspada Penipuan Undian hingga Video AI, Bank BPD Bali Imbau Nasabah Lakukan Ini
Rasio keuangan lainnya juga berada pada level yang sehat, dengan Return on Assets (ROA) sebesar 3,43 persen, Return on Equity (ROE) 21,41 persen, rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) 61,82 persen, serta Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 73,75 persen. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Badan Gizi Nasional (BGN) menerapkan skema kerja hybrid (WFH-WFO) 50% untuk unit yang… Read More
Poin Penting Zulkarnain Sitompul menegaskan kredit macet tidak otomatis menjadi tindak pidana, melainkan bagian dari… Read More
Poin Penting Kadin mendorong dunia usaha meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi seiring pemberlakuan KUHP baru Perusahaan… Read More
Poin Penting PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi mengintegrasikan… Read More
Poin Penting PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menilai data backlog perumahan masih belum akurat… Read More
Poin Penting BTN meresmikan Ecopark Dago sebagai pusat pelatihan SDM berbasis konsep modern dan ramah… Read More