Bos LPS Proyeksi Cuti Bersama dan WFA Lebaran 2026 Dongkrak Kredit Perbankan

Bos LPS Proyeksi Cuti Bersama dan WFA Lebaran 2026 Dongkrak Kredit Perbankan

Poin Penting

  • Ketua LPS Anggito Abimanyu yakin Ramadan dan Idul Fitri 2026 dapat menjadi pendorong pertumbuhan kredit perbankan, terutama kredit konsumsi.
  • OJK menargetkan pertumbuhan kredit 10–12% pada 2026, lebih tinggi dibanding realisasi 2025 yang sebesar 9,69% yoy.
  • Likuiditas perbankan dinilai sangat memadai, ditopang pertumbuhan DPK serta meningkatnya mobilitas masyarakat akibat cuti bersama dan kebijakan WFA.

Jakarta – Momentum Ramadan dan Idul Fitri 2026 diproyeksikan menjadi pendorong penting pertumbuhan kredit perbankan nasional, terutama pada segmen konsumsi. Optimisme ini sejalan dengan target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang membidik pertumbuhan kredit di kisaran 10-12 persen sepanjang 2026.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu menilai, peningkatan aktivitas belanja masyarakat menjelang dan selama Lebaran berpotensi mendorong penyaluran kredit, setelah pertumbuhan tahun sebelumnya masih berada di bawah 10 persen.

“Proyeksi pertumbuhan pembiayaan atau kredit perbankan, kan OJK sudah menyampaikan bahwa pertumbuhannya akan di sekitar 10-12 persen. Itu tahun lalu kan di bawah 10 persen ya. Jadi kita harapkan momentum Ramadan ini bisa meningkatkan, khususnya kredit konsumsi,” ujar Anggito selepas mengisi acara Investor Daily Roundtable & Ekonomi Syariah 2026 di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Rabu, 11 Februari 2026.

Baca juga: OJK Targetkan Kredit Perbankan Tumbuh hingga 12 Persen di 2026

Lebih lanjut Anggito menyampaikan, dari sisi penawaran, dipastikan kondisi likuiditas perbankan saat ini berada pada level yang cukup kuat. Dengan likuiditas yang longgar, perbankan memiliki ruang besar untuk meningkatkan pembiayaan tanpa menimbulkan tekanan terhadap stabilitas pasar keuangan.

“Ya, karena memang likuiditas yang tersedia di pasar cukup memadai. Jadi mudah-mudahan ini sebagai momentum untuk mengakselerasi pembiayaan-pembiayaan, ataupun kredit untuk perbankan,” imbuhnya.

Mobilitas Masyarakat Dorong Permintaan Kredit

Kemudian dari sisi permintaan, Anggito menambahkan, kebijakan pemerintah terkait cuti bersama dan penerapan Work From Anywhere (WFA) diperkirakan meningkatkan mobilitas masyarakat selama periode Lebaran. Kondisi ini diyakini akan mendorong sektor pariwisata dan konsumsi, yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan pembiayaan.

“Pemerintah memberikan kesempatan untuk libur, cuti bersama, dan juga WFA yang mudah-mudahan ini bisa menggerakkan permintaan atas jasa pariwisata maupun jasa-jasa lain yang terkait dengan konsumsi bagi masyarakat sendiri,” pungkasnya.

Baca juga: Bos LPS Sentil Bank yang Belum Turunkan Suku Bunga Simpanan

Sebelumnya, OJK memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan berada di kisaran 10-12 persen pada 2026, lebih tinggi dibandingkan target 2025 yang berada pada rentang 9-11 persen. Adapun realisasi pertumbuhan kredit pada 2025 tercatat sebesar 9,69 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

“Kami memberikan outlook kredit perbankan diproyeksikan akan tumbuh sebesar 10-12 persen,” kata Pejabat Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi dalam Pertemuan Tahunan Industri jasa Keuangan 2026, Kamis, 5 Februari 2026.

Ditopang Pertumbuhan DPK

Menurut Friderica, target tersebut akan ditopang oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang diperkirakan mencapai 7-9 persen sepanjang 2026.

“Didukung pertumbuhan DPK sebesar 7 sampai 9 persen,” tambahnya.

Baca juga: BI Targetkan Kredit Perbankan Tumbuh 12 Persen pada 2026

Adapun berdasarkan data Bank Indonesia (BI), penghimpunan DPK perbankan pada Desember 2025 mencapai Rp9.467,6 triliun atau tumbuh 10,4 persen yoy. Angka ini meningkat dibandingkan pertumbuhan pada November 2025 yang sebesar 8,5 persen yoy. (*)

Related Posts

News Update

Netizen +62