Bos LPS Buka Suara soal Outlook Moody’s: Fundamental Ekonomi RI Tak Berubah

Poin Penting

  • LPS menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, meski Moody’s menurunkan outlook kredit dari stabil menjadi negatif.
  • Penurunan outlook dinilai akibat isu komunikasi dan prediktabilitas kebijakan, bukan karena pelemahan ekonomi.
  • LPS mendorong perbaikan komunikasi pemerintah dengan lembaga pemeringkat untuk menjaga kepercayaan pasar dan investor.

Jakarta – Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menilai penurunan outlook kredit Indonesia oleh Moody’s tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional. Ia menegaskan, kondisi dasar perekonomian Indonesia masih berada pada jalur yang kuat dan stabil.

Menurut Anggito, revisi outlook tersebut lebih berkaitan dengan aspek persepsi, khususnya soal komunikasi dan kepastian arah kebijakan pemerintah, bukan karena penurunan kinerja ekonomi secara struktural.

“Bukan negatif ya, tapi downgrade outlook-nya ya, kalau dari sisi fundamental tidak berubah,” ujar Anggito selepas mengisi acara Investor Daily Roundtable & Ekonomi Syariah 2026 di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Rabu, 11 Februari 2026.

Baca juga: Indonesia Bak “Macan Pincang”: Ekonomi Tumbuh 5,39 Persen, tapi Moody’s “Menampar” dengan Rating Negatif

Anggito menjelaskan, jika mencermati pernyataan Moody’s, fokus utama lembaga pemeringkat global tersebut lebih banyak menyoroti prediktabilitas dan kredibilitas kebijakan pemerintah, terutama terkait transparansi serta kepastian implementasi program.

“Saya kira kalau kita membaca statement dari Moody itu kan lebih banyak pada prediktibilitas ya, dan kredibilitas dari kebijakan dalam rangka untuk menyampaikan transparansi ataupun kepastian,” lanjutnya.

Ia menilai, isu tersebut seharusnya dapat dikelola dengan baik melalui komunikasi yang lebih intens dan terbuka antara pemerintah dan lembaga pemeringkat internasional.

Komunikasi Dinilai Jadi Kunci Mitigasi Risiko Persepsi

Anggito menekankan pentingnya penjelasan yang lebih komprehensif terhadap sejumlah program pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya dipahami oleh lembaga pemeringkat.

“Jadi menurut saya ini harusnya bisa dimitigasi. Artinya komunikasi dengan Moody’s harus lebih bagus. Soal-soal yang mungkin tidak jelas bagi rating agensi seperti Danantara, BGN, kemudian sekolah rakyat, kemudian TKD, dan sebagainya,” katanya.

Baca juga: BCA Pastikan Rating Moody’s Tak Berdampak ke Kinerja Kredit

Menurutnya, kejelasan arah kebijakan dan narasi yang konsisten akan membantu menjaga kepercayaan pasar serta persepsi positif terhadap ekonomi Indonesia.

Moody’s Turunkan Outlook

Sebelumnya, Moody’s Investors Service menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Namun demikian, lembaga tersebut tetap mempertahankan peringkat Indonesia pada level Baa2, atau satu tingkat di atas batas investment grade.

Dalam laporannya, Moody’s menekankan pentingnya menjaga konsistensi pengambilan kebijakan, kualitas komunikasi publik, serta koordinasi antarkementerian dan lembaga di tengah dinamika kebijakan dan tata kelola ekonomi nasional.

Baca juga: Bos LPS Proyeksi Cuti Bersama dan WFA Lebaran 2026 Dongkrak Kredit Perbankan

Moody’s juga menyoroti perlunya penguatan basis penerimaan negara untuk menopang belanja prioritas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sementara itu, lembaga pemeringkat global lainnya, S&P Global, hingga kini masih mempertahankan outlook stabil bagi Indonesia berdasarkan laporan terbarunya. (*)

Yulian Saputra

Berpengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Saat ini bertugas sebagai editor di infobanknews.com. Sebelumnya, ia menulis berbagai isu, mulai dari politik, hukum, ekonomi, hingga olahraga.

Recent Posts

Bisnis Oli Makin Kencang, Pertamina Lubricants Dominasi Pangsa Pasar 37 Persen

Poin Penting Pangsa pasar oli Indonesia tumbuh rata-rata 2,5% per tahun, didorong oleh meningkatnya jumlah… Read More

28 mins ago

Prasasti: Konflik AS-Iran jadi Momentum Investor Borong Aset Keuangan

Poin Penting Konflik AS-Iran memunculkan volatilitas, yang sebagian investor lihat sebagai momentum untuk membeli aset… Read More

39 mins ago

Salurkan Pembiayaan Perumahan RP20,88 T di 2025, Laba SMF Tembus Rp565 M

Poin Penting SMF menyalurkan pembiayaan Rp20,88 triliun sepanjang 2025, naik 22,75%, dengan laba Rp565 miliar… Read More

2 hours ago

Naik 18 Persen, Adira Finance Catat Pembiayaan Baru Tembus Rp43,2 Triliun di 2025

Poin Penting Adira Finance catat pembiayaan baru Rp43,2 triliun, naik 18% di 2025. Laba bersih… Read More

2 hours ago

AFPI Dorong Bank Himbara Salurkan Rp200 Triliun SAL ke Fintech Pindar

Poin Penting AFPI berharap bank Himbara menyalurkan sebagian dari Rp200 triliun SAL ke industri pinjaman… Read More

2 hours ago

Timteng Memanas, Ini Langkah Pertamina Lubricants Jamin Ketersediaan Stok Nasional

Poin Penting Pertamina Lubricants memastikan stok oli domestik aman meski konflik AS-Israel vs Iran berpotensi… Read More

2 hours ago