Keuangan

Bos LPS Beberkan Progres Terbaru Pembentukan Lembaga Penjaminan Polis

Jakarta – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengungkapkan bahwa proses pembentukan Lembaga Penjamin Polis (LPP) masih memerlukan pembahasan beberapa isu bersama Kementerian Keuangan.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa hingga saat ini tidak terdapat kendala serius dalam proses pembentukan LPP. Beberapa isu bahkan telah terselesaikan.

“Tapi sebagian besar isu sudah, tinggal 1-2 lah yang masih dibahas. Tapi sekarang kita ikut antrean di sana. Tapi sudah diskusikan secara intensif. Sejauh ini tidak ada masalah. Kami satu pandangan dengan Kementerian Keuangan,” ujar Purbaya kepada media dikutip, Rabu, 21 Mei 2025.

Baca juga: Lima Calon DK LPS Lolos Seleksi Tahap Kelayakan dan Kepatutan, Ini Daftarnya

Purbaya juga menjelaskan LPS telah melakukan studi banding ke beberapa negara seperti Korea, Malaysia, Italia, dan Taiwan. Langkah ini diharapkan dapat menjadi referensi agar pelaksanaan program LPP di Indonesia berjalan optimal.

Diskusi dengan OJK soal Kriteria Perusahaan Asuransi

Selain dengan Kementerian Keuangan, LPS juga berdiskusi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait kriteria perusahaan asuransi yang dapat mengikuti program penjaminan polis. Untuk sementara, LPS masih menggunakan acuan Risk Based Capital (RBC).

“Ada diskusi dengan OJK adalah perusahaan yang boleh masuk yang seperti apa sih. Kita masih pakai acuan RBC kan. Angka itu masih didiskusikan. Kita maunya negara yang udah maju, tinggi. Tapi di sini kan kita masih lihat juga keadaan asuransinya seperti apa,” imbuhnya.

Baca juga: LPS Jamin Hampir Semua Rekening Nasabah Bank di Sulut, Ini Angkanya

Besaran Penjaminan Masih dalam Pembahasan

Adapun terkait nilai polis yang akan dijamin, Purbaya mengungkapkan bahwa angka tersebut masih dalam proses diskusi. Beberapa pelaku industri menginginkan batas penjaminan setinggi mungkin, hingga Rp750 juta. Namun, menurut LPS, angka yang paling ideal adalah Rp500 juta.

“Tapi kalau kita lihat yang paling pas, yang bisa meng-cover misalnya kayak perbankan. So far sih angka yang tadi Rp500 juta. Ini masih pas ini ya. Rp500 juta sepertinya cukup melindungi 90 persen lebih dari asuransinya. Tapi masih kita akan diskusikan lagi seperti apa yang terbaik,” ujar Purbaya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

Harga Emas Fluktuatif, Bank Mega Syariah Dorong Nasabah Optimalkan Strategi “Buy the Dip”

Poin Penting Harga emas global bergerak fluktuatif dipengaruhi faktor ekonomi, inflasi, suku bunga, dan geopolitik… Read More

9 mins ago

60 Siswa Sakit Diduga akibat MBG, BGN Minta Maaf dan Suspend SPPG Pondok Kelapa

Poin Penting BGN meminta maaf atas insiden keamanan pangan dalam program MBG di SPPG Pondok… Read More

6 hours ago

Gebyar Ramadan Keuangan (GERAK) Syariah 2026 menghimpun dana sebesar Rp 6,83 triliun

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pelaksanaan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026 berhasil menghimpun… Read More

8 hours ago

Catat! Ini Jadwal Pembagian Dividen WOM Finance

Poin Penting WOM Finance menetapkan pembagian dividen tunai maksimal 30 persen dari laba bersih 2025,… Read More

13 hours ago

Free Float 15 Persen Mulai Berlaku, Banyak Emiten yang Terancam Delisting?

Poin Penting BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia resmi mengumumkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi… Read More

14 hours ago

DPR Minta Bank Sumut Tingkatkan Penyaluran Kredit UMKM

Poin Penting DPR menyoroti perlunya kebijakan kredit yang lebih berpihak pada masyarakat, terutama pelaku UMKM… Read More

15 hours ago