Poin Penting
- Dirut BRI Hery Gunardi menilai rebalancing MSCI dan perubahan rekomendasi Goldman Sachs memicu arus keluar modal asing dan menekan rupiah.
- Kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin diperkirakan meningkatkan biaya dana (cost of fund) dan menekan margin bunga bersih (NIM) perbankan.
- Perbankan diminta tetap disiplin mengelola likuiditas dan biaya dana di tengah suku bunga yang diperkirakan bertahan tinggi.
Jakarta – Pasar modal Indonesia menghadapi cobaan berat berupa rebalancing dan perubahan peringkat indeks dari beberapa lembaga pemeringkat global, seperti dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Goldman Sachs. Penilaian dari kedua perusahaan itu terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai berdampak terhadap laju ekonomi dalam negeri, termasuk sektor perbankan.
Dampak terhadap perbankan ini disampaikan oleh Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI), Hery Gunardi. Diawali dari rebalancing MSCI pada awal 2026, yang sempat membuat IHSG anjlok, bahkan sampai trading halt beberapa kali.
“Bersamaan dengan ini Goldman Sachs menurunkan rekomendasi ke underweight. Kemudian respons regulator bergerak cepat dan terstruktur OJK dan Bursa Efek Indonesia dalam hal ini memperkuat pengawasan setelah transparansi pasar modal, termasuk implementasi keterbukaan data pemilikan saham dan pemilik manfaat akhir,” terang Hery dalam Infobank Mid Year Economic Outlook 2026 bertajuk “The New Rules of Survival in Uncertain Times: Akankah Terjadi Krisis” yang berlangsung di Hotel Kempinski Jakarta, Jumat, 26 Juni 2026.
Baca juga: MSCI Ingatkan RI Bisa Turun ke Frontier Market, Begini Tanggapan Airlangga
Pada Mei 2026, MSCI sempat mengeluarkan sekitar 18 emiten dari indeks mereka. Selanjutnya pada Juni 2026, lembaga tersebut mengubah penilaian prospek investasi di Indonesia dari positif ke negatif.
Tekan Rupiah hingga BI Rate
Kepastian apakah Indonesia akan bertahan di indeks pasar berkembang (emerging market) atau turun ke frontier market akan terjadi pada November 2026 mendatang. Tapi, menurutnya, efek domino dari peristiwa ini pada akhirnya bermuara terhadap perubahan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
“Rantai sebab akibatnya cukup jelas, arus keluar modal asing yang dominan sepanjang semester pertama 2026 ini menyebabkan kepercayaan tekanan jual yang persisten terhadap rupiah,” kata Hery.
Baca juga: Bos BRI Ungkap Penarikan Dana SAL akan Dilakukan Bertahap
Hery melanjutkan, tertariknya aliran modal asing dari pasar modal Indonesia berdampak terhadap naiknya nilai tukar rupiah. Hingga akhir Juni 2026, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah berada di kisaran Rp18.000.
NIM dan Cost of Fund Tertekan
Akibatnya, guna menstabilkan nilai tukar tersebut, BI terpaksa menaikkan suku bunga acuan. Terhitung dalam 2 bulan ke belakang, BI sudah menaikkan BI-Rate 100 basis point (bps) dari 4,75 persen pada 22 April 2026, menjadi 5,75 persen pada 18 Juni 2026.
“Kenaikan BI-Rate 100 basis point dalam 1 tahun, secara struktural akan meningkatkan tekanan repricing DPK. Mungkin bapak-ibu bankir pasti tau belakangan ini suku bunga dikerek ke atas, dan ini nanti akan mem-pressure atau menekan NIM,” imbuh Hery.
Baca juga: Selain Efek MSCI, Sentimen Ini juga Jadi Biang Kerok IHSG Anjlok
Ke depan, Hery sendiri melihat bahwa perekonomian Indonesia secara keseluruhan akan tetap solid, meskipun ada sedikit pelemahan di beberapa aspek. Namun, ia memprediksi suku bunga acuan BI akan tetap tinggi guna mempertahankan kurs rupiah terhadap dolar AS.
Selain berpengaruh terhadap NIM, BI-Rate yang tinggi juga akan berdampak terhadap cost of fund (CoF). Dalam situasi seperti ini, Hery mewanti-wanti perbankan untuk tetap hati-hati dan tetap disiplin.
“Artinya, buat perbankan, cost of fund akan memiliki kecenderungan untuk naik. Kalau cost of fund atau cost of capital-nya meningkat. Maka dalam kondisi seperti ini disiplin menjadi kata kunci,” tutupnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


