Bos BRI: Tantangan Kredit Bukan karena Likuiditas, tapi Daya Beli

Bos BRI: Tantangan Kredit Bukan karena Likuiditas, tapi Daya Beli

Poin Penting

  • Dirut PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Hery Gunardi mengungkap indeks daya beli kelas bawah (-0,34) dan menengah (-0,39) masih tertekan pada 2025, sementara kelas atas sudah positif (0,13).
  • Pertumbuhan simpanan kelompok menengah-atas (Rp600 juta–<Rp2 miliar) hanya 4,09 persen (yoy), jauh di bawah kelompok saldo >Rp2 miliar yang tumbuh 20,15 persen (yoy).
  • Ketimpangan likuiditas membuat transmisi ke konsumsi dan kredit mikro terbatas; tantangan utama bukan pada ketersediaan dana, tetapi distribusi dan kualitas pemulihan daya beli.

Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) membeberkan dampak pelemahan daya beli masyarakat, khususnya segmen menengah dan bawah, terhadap kinerja penyaluran kredit perbankan.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengungkapkan tekanan terhadap daya beli masih terasa sepanjang 2025. Hal ini tercermin dari indeks daya beli masyarakat kelas bawah yang rata-rata berada di level -0,34.

Sementara itu, indeks daya beli kelompok menengah tercatat -0,39, turun 11 basis poin dibandingkan 2024. Kondisi berbeda terlihat pada kelompok atas yang indeksnya sudah mencapai 0,13 atau kembali ke zona positif.

Baca juga: Kasus-Kasus Kriminalisasi Kredit Macet yang Membelit BPD

“Jika kita lihat indeks daya beli, kelas bawah dan menengah masih berada di bawah level normal per tahun 2019 atau per pandemi. Meski ada perbaikan dibanding 2024, ruang konsumsi mereka masih terbatas,” kata Hery dalam webinar OJK Institute bertajuk Economic Outlook 2026, Kamis, 19 Februari 2026.

“Sebaliknya, kelas atas sudah kembali ke arah positif dan relatif lebih stabil. Ini menjelaskan mengapa segmen premium seperti properti dan juga kredit korporasi tertentu lebih resilient,” tambahnya.

Kondisi tersebut juga tercermin dari pertumbuhan simpanan. BRI mencatat, saldo tabungan masyarakat menengah-atas dengan nominal Rp600 juta hingga di bawah Rp2 miliar tumbuh 4,09 persen secara tahunan (yoy) pada akhir 2025.

Namun, pertumbuhan yang jauh lebih tinggi terjadi pada kelompok dengan saldo di atas Rp2 miliar, yakni mencapai 20,15 persen (yoy) pada periode yang sama. Ketimpangan ini dinilai memengaruhi efektivitas transmisi likuiditas ke sektor riil.

“Asimetri ini penting karena kita ketika likuiditas tidak tersebar merata, transmisi ke konsumsi dan juga kredit mikro menjadi terbatas. Jadi, meskipun dana tersedia dalam sistem, dorongan terhadap permintaan real belum sepenuhnya bisa dijalankan dengan baik,” jelasnya.

Baca juga: Menata Ulang Kredit UMKM di Era Data dan Kepercayaan

Hery pun menyimpulkan, ruang ekspansi konsumsi masih terbatas karena pertumbuhan dana lebih terkonsentrasi pada kelompok dengan saldo besar. Tantangan utama saat ini, menurutnya, bukan pada ketersediaan likuiditas (supply of fund), melainkan pada distribusi dan kualitas pemulihan daya beli.

Sementara menurut data Bank Indonesia (BI), hingga Desember 2025 kredit perbankan 9,3 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan November 2025 sebesar 7,9 persen (yoy). Pertumbuhannya memang seuai yang ditargetkan berada di 8-11 persen. Hanya saja, pertumbuhan kredit hingga akhir 2025 masih stagnan di level single digit. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Related Posts

News Update

Netizen +62