Poin Penting
- Kredit yang belum dicairkan mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12 persen dari plafon kredit pada Desember 2025
- Sepanjang 2025, kredit perbankan tumbuh 9,69 persen yoy, ditopang terutama oleh kredit investasi yang melonjak 21,06 persen yoy
- Likuiditas dan permodalan terjaga dengan CAR tinggi 26,05 persen, NPL rendah, serta hasil stress test menunjukkan ketahanan perbankan menghadapi risiko.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan kredit perbankan yang belum dicairkan alias undisbursed loan masih cukup besar pada Desember 2025, yaitu mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12 persen dari plafon kredit yang tersedia.
Angka tersebut menurun tipis dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai Rp2.509,4 triliun atau 23,18 persen dari plafon kredit yang tersedia.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, dari sisi permintaan kredit, pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan).
“Undisbursed loan tercatat masih cukup besar pada Desember 2025, yaitu mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12 persen dari plafon kredit yang tersedia,” imbuh Perry dalam konferensi pers RDG, Rabu, 21 Januari 2026.
Baca juga: Sesuai Perkiraan, Kredit Perbankan Tumbuh 9,69 Persen Sepanjang 2025
Realisasi Kredit Perbankan 2025
Sepanjang 2025, BI mencatat kredit perbankan tumbuh sebesar 9,69 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini berada dalam kisaran prakiraan BI sebesar 8-11 persen yoy.
Perry mengatakan, berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi pada 2025 masing-masing tumbuh sebesar 21,06 persen yoy, 4,52 persen yoy, dan 6,58 persen yoy.
Ketahanan sistem keuangan juga terjaga baik didukung likuiditas perbankan yang memadai, kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, dan risiko kredit yang rendah.
Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan pada November 2025 tercatat tinggi sebesar 26,05 persen.
“Tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit,” tambahnya.
Baca juga: Bos BI Akui Pelemahan Rupiah Tak Lepas dari Persepsi Pencalonan Deputi Gubernur
Sementara, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perbankan secara agregat tetap rendah sebesar 2,21 persen (bruto) dan 0,86 persen (neto) pada November 2025.
Perry menyatakan, hasil stress test BI menunjukkan ketahanan perbankan yang tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga.
“BI akan terus memperkuat sinergi kebijakan bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam memitigasi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama










