Poin Penting
- BI mengakui pelemahan rupiah dipengaruhi persepsi pasar terhadap proses pencalonan Deputi Gubernur BI, meski kebijakan tetap berjalan profesional.
- Faktor global dan domestik turut menekan rupiah, termasuk penguatan dolar AS, arus modal keluar, kebutuhan valas korporasi, dan persepsi fiskal.
- BI memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar, melalui intervensi NDF, DNDF, dan pasar spot, didukung cadangan devisa yang memadai.
Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui pelemahan nilai tukar rupiah turut dipengaruhi oleh persepsi pasar terhadap proses pencalonan Deputi Gubernur BI pasca-pengunduran diri Juda Agung.
Sebagaimana diketahui, Juda Agung resmi mengundurkan diri dari jabatan Deputi Gubernur BI sejak 13 Januari 2026. Untuk mengisi kekosongan tersebut, Perry mengusulkan tiga nama kepada Presiden Prabowo Subianto sebelum diserahkan ke DPR RI.
Ketiga nama calon tersebut yakni Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Dicky Kartikoyono, dan Asisten Gubernur BI Solikin M. Juhro.
Baca juga: Bocoran Kandidat Pengganti Juda Agung yang Dikabarkan Mundur dari Deputi Gubernur BI
Perry menegaskan, proses pencalonan Deputi Gubernur BI telah sesuai dengan Undang-Undang BI dan prinsip tata kelola yang kuat. Ia memastikan hal tersebut tidak memengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan Bank Indonesia.
Persepsi Pasar Bukan Satu-satunya Faktor
Meski demikian, ia mengakui persepsi pasar terhadap proses tersebut ikut memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Namun, faktor tersebut bukan satu-satunya penyebab pelemahan.
Dari sisi global, Perry menyebut kondisi geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat, dan tingginya imbal hasil US Treasury tenor 2 dan 3 tahun turut memberikan tekanan. Selain itu, kecilnya peluang penurunan Fed Fund Rate (FFR) juga mendorong penguatan dolar AS.
“Di samping juga kondisi-kondisi lain yang menyebabkan dolar menguat dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk Amerika,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu 21 Januari 2026.
Baca juga: Bos BI Tegaskan Pencalonan Deputi Gubernur Tak Pengaruhi Kebijakan Bank Sentral
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kaburnya aliran modal asing, tingginya kebutuhan valuta asing dari korporasi besar seperti PLN, Pertamina, dan Danantara, serta persepsi pasar terhadap kondisi fiskal nasional.
“Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan Deputi Gubernur,” ungkap Perry.
Langkah Stabilitas BI
Perry menambahkan, pelemahan nilai tukar ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami sejumlah negara lain. Oleh karena itu, BI akan terus melakukan langkah stabilisasi, termasuk melalui Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
“Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat didukung oleh kondisi fundamental ekonomi kita yang baik termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang merendah, demikian juga prospek ekonomi yang membaik,” paparnya.
Baca juga: Penjelasan Bos BI soal Kehadiran Wamenkeu Thomas Djiwandono di RDG November 2025
Langkah stabilisasi tersebut juga ditopang oleh cadangan devisa Indonesia yang dinilai masih memadai. Perry optimistis rupiah akan kembali menguat.
“Memang cadangan devisa kami kumpulkan pada saat masuk dan kami gunakan, tidak segan-segan kami gunakan cadangan devisa itu untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” imbuhnya. (*)
Editor: Yulian Saputra










