Poin Penting
- Implementasi PSAK 117 mendorong industri asuransi beralih dari fokus premi bruto ke profitabilitas dan kualitas bisnis underwriting
- Tantangan permodalan dari aturan OJK berpotensi memicu konsolidasi industri (merger/penambahan modal/exit)
- Meski ada tantangan (BBM, impor, fintech, dan regulasi), premi asuransi umum tetap diproyeksi tumbuh didorong produk utama seperti properti, kendaraan, dan kredit.
Jakarta – PT Asuransi Ekspor Indonesia (Asuransi Asei) mengungkapkan setidaknya ada dua tantangan penting yang dihadapi pelaku asuransi umum pada 2026.
Achmad Sudiyar Dalimunthe, Direktur Utama Asuransi Asei, menyebut tantangan pertama, yakni penggunaan PSAK 117. Tahun 2025 menjadi kali pertama PSAK 117 diimplementasikan di industri asuransi. Penerapan PSAK 117 membuat asuransi harus memilih bisnis mana yang bagus dan berdampak kepada hasil underwriting.
“Jadi mungkin harus berbeda dibandingkan yang sebelumnya yang tujuannya adalah untuk premi bruto yang cukup tinggi. Sekarang asuransi umum tidak lagi harus dengan premi bruto, tetapi langsung kepada profitability,” kata pria yang akrab disapa Dodi ini, di sela-sela PPDP Regulatory Dissemination Day, Senin, 13 April 2026.
Baca juga: Fenomena Shifting Asuransi, Generasi Muda Dorong Lonjakan Produk Tradisional
Dodi menambahkan, implementasi PSAK 117 ini membuat fokus industri asuransi untuk mencari bisnis yang lebih berkualitas, karena tidak lagi mengutamakan premi bruto sebagai acuan utama pertumbuhan.
Tantangan berikutnya adalah pemenuhan ekuitas minimum tahap pertama. Menurut Dodi, aturan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini akan mengubah arah perusahaan asuransi akan berjalan.
“Begitu nanti laporan tahun 2026 ternyata ada masalah dengan permodalan minimal, nanti kan harus segera melakukan negosiasi dengan perusahaan. Apakah perusahaan masih ingin lanjut, yang berarti menambah modal? Atau mungkin ada cara-cara lain? Atau mencari partner? Atau mungkin berhenti?” jelas Dodi.
“Tapi yang tidak lanjut atau merger, berarti nanti jumlah (perusahaan) akan berkurang dan mereka akan bergabung dengan perusahaan yang lain,” lanjutnya.
Optimis Premi Asuransi Umum Tumbuh
Meski menantang, Dodi optimis bahwa premi industri asuransi umum akan terus bertumbuh. Secara historis, ia melihat kalau tren premi industri asuransi umum konsisten naik dari waktu ke waktu.
Lebih lanjut, beberapa produk dengan pangsa terbesar, seperti asuransi properti, asuransi kendaraan bermotor, dan asuransi kredit, masih memiliki peluang tumbuh. Hanya saja, Dodi tak menampik ada tantangan di masing-masing produk.
Baca juga: OJK Beberkan Bukti Industri Asuransi Dukung Program Pemerintah
Untuk asuransi kendaraan bermotor misalnya, ada tantangan berupa kenaikkan harga BBM, serta peningkatan harga barang impor.
Asuransi kredit juga dihadapkan dengan pesaing baru seperti fintech lending yang berpotensi mengambil sejumlah pangsa dari perbankan.
“Tantangan (asuransi) kredit berikutnya adalah fintech, yang sudah mulai bangkit . Kalau fintech memang premi brutonya besar. Tapi hasilnya sepertinya tidak terlalu tinggi,” jelas Dodi.
Dan untuk asuransi kredit, masih ada kendala soal POJK 20 Tahun 2023 tentang Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Kredit atau Pembiayaan Syariah dan Produk Suretyship atau Suretyship Syariah. Masih ada overlapping regulasi. Dodi berharap hal tersebut bisa segera diselesaikan antara asuransi dengan perbankan. (*) Mohammad Adrianto Sukarso







