BNI Mau Buyback Saham Rp905,48 Miliar, Minta Restu di RUPST 2026

BNI Mau Buyback Saham Rp905,48 Miliar, Minta Restu di RUPST 2026

Poin Penting

  • BNI akan buyback saham maksimal Rp905,48 miliar, sesuai POJK 29/2023, dari saldo laba dan arus kas bebas, dengan persetujuan RUPST 9 Maret 2026.
  • Buyback dilakukan di tengah kinerja saham perbankan domestik yang tertekan akibat risiko geopolitik, perang tarif, dan volatilitas nilai tukar.
  • Langkah buyback ini menunjukkan kepercayaan BNI pada fundamental solid perseroan, kualitas aset, pertumbuhan kredit, dan prospek jangka panjang.

Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) berencana melakukan pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal Rp905,48 miliar.

Aksi korporasi tersebut akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 9 Maret 2026 secara elektronik melalui aplikasi eASY.KSEI.

Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dikutip 4 Maret 2026, manajemen BNI menyebutkan, buyback dilakukan atas saham yang telah dikeluarkan dan tercatat di BEI, dengan mengacu pada ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Peraturan OJK (POJK) No.29 Tahun 2023 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Perusahaan Terbuka.

Nilai transaksi buyback tersebut sudah termasuk biaya transaksi, biaya penyimpanan, dan commitment fee sekitar 0,32 persen dari nilai eksekusi.

Perseroan menegaskan, nilai maksimal buyback tidak melebihi 10 persen dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh, serta bersumber dari arus kas bebas (free cash flow) berupa saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya.

Secara regulasi, rencana ini telah sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) POJK 29/2023 dan Pasal 37 ayat (1) huruf (b) Undang-Undang Perseroan Terbatas, di mana nilai nominal saham yang dibeli kembali tidak melampaui 10 persen dari modal ditempatkan perseroan.

Baca juga: BNI Siapkan Rp23,97 Triliun Uang Tunai Jelang Lebaran 2026

Respons Tekanan Saham Perbankan

Langkah buyback saham BBNI ini tak lepas dari tekanan yang membayangi saham perbankan sepanjang 2025. Ketidakpastian global akibat risiko geopolitik dan ancaman perang tarif membuat kinerja saham perbankan domestik tertekan, bahkan lebih dalam dibandingkan bank-bank regional.

Per 31 Desember 2025, harga saham BBNI tercatat hanya naik tipis 0,5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Meski relatif lebih baik dibandingkan sejumlah bank domestik, kinerja tersebut masih tertinggal dari bank-bank regional peers.

Di sisi lain, meskipun pasar saham domestik sempat rebound pada akhir 2025 seiring kembalinya aliran dana asing, pemulihan tersebut dinilai belum solid. Investor masih cenderung wait and see di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan ancaman tarif Amerika Serikat (AS) pada awal 2026.

Tekanan eksternal tersebut turut berdampak pada nilai tukar rupiah yang sempat melemah hingga menyentuh level Rp16.985 per dolar AS, bahkan lebih rendah dibandingkan masa krisis 1998.

Baca juga: Adu Laba BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI di 2025, Siapa Paling Cuan?

Sinyal Kepercayaan pada Fundamental

Di tengah gejolak tersebut, manajemen menegaskan fundamental BNI tetap solid. Permodalan disebut masih kuat, kualitas aset terjaga, pertumbuhan kredit tumbuh seimbang di seluruh segmen, serta pertumbuhan dana murah (CASA) yang solid didukung transformasi digital dan penguatan jaringan.

Namun, eskalasi konflik geopolitik dan perang tarif yang berlanjut berpotensi menekan inflasi melalui pelemahan nilai tukar dan memberi tekanan lanjutan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), termasuk saham perbankan.

Melalui buyback ini, BNI ingin membantu meredam tekanan jual saat volatilitas pasar meningkat, sekaligus memberikan sinyal kepada investor bahwa perseroan memandang harga saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental dan prospek kinerja jangka panjang.

Baca juga: BNI Ingatkan Nasabah Waspada Modus Phishing Jelang Lebaran

Kinerja BNI 2025

Sepanjang 2025, BNI mampu mencetak laba bersih senilai Rp20,04 triliun. Capaian laba tersebut turun 6,63 persen dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp21,46 triliun.

Meski demikian, kinerja kredit BNI tetap solid dengan pengelolaan risiko yang terjaga. Hingga akhir 2025, BNI mencatatkan pertumbuhan kredit 15,9 persen secara tahunan (yoy), seiring ekspansi pembiayaan ke sektor-sektor produktif.

Pertumbuhan kredit tersebut sepenuhnya didukung oleh dana murah (CASA) yang tumbuh 28,9 persen yoy. Kinerja CASA ditopang oleh pertumbuhan giro 43,8 persen yoy dan tabungan yang meningkat 11,2 persen yoy.

Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) BNI tercatat 20,7 persen, jauh di atas ketentuan regulator, sehingga memberikan ruang yang memadai untuk ekspansi bisnis dan mitigasi risiko ke depan.

Dari sisi kualitas aset, BNI mencatatkan perbaikan berkelanjutan. Rasio NPL bruto tercatat 1,9 persen, membaik 10 basis poin yoy, sedangkan Loan at Risk (LaR) turun menjadi 8,5 persen atau membaik 1,8 persen yoy, mendekati level sebelum pandemi.

Di sisi pencadangan, NPL coverage ratio mencapai 205,5 persen dan LaR coverage ratio sebesar 46,9 persen, menunjukkan tingkat pencadangan yang kuat dan prudent dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan.

Adapun total aset BNI tercatat naik 20,53 persen menjadi Rp 1.362 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1.130 triliun. (*)

Related Posts

News Update

Netizen +62