Jakarta–PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) saat ini tengah gencar menggenjot pembiayaan melalui mekanisme digital. Hal ini diharapkan dapat menjadi salah satu cara BNI antisipasi potensi fraud.
Meski begitu, pihak BNI mengaku tetap mewaspadai adanya potensi fraud, seperti kredit macet atau non performing loan (NPL) dan sebagainya. (Baca juga: Fraud Perbankan Paling Banyak Dilakoni Direksi)
“Makanya kita terus mitigasi usahanya. Sehingga tidak terjadi fraud di online ini. Jangan sampai kemudian terjadi kemacetan (NPL) di tengah jalan,” kata Kepala Divisi Bisnis Usaha Kecil BNI, Anton Siregar, di Jakarta, kemarin.
Salah satu mekanisme mitigasi risiko itu, kata Anton, pihaknya tetap fokus membiayai sektor yang produktif. Kendati sektor itu dinilai tidak bankable (dapat dibiaya perbankan), yang terpenting tetap feasible (mempunyai kelayakan untuk dibiayai). Melalui kredit digital ini, diharapkan dapat menjadi langkah antisipasi potensi fraud.
“Makanya, kami tak berikan penjaminan dalam kredit digital ini. Tapi yang jelas sektornya feasible dan produktif. Sehingga kami biayai dari hulu sampai hilir. Kalau di hilirnya saja, tidak menjaga kontinuitas. Itu justru yang bahaya,” tegas Anton. (Selanjutnya: Optimis tumbuh)
Page: 1 2
Bank Muamalat Indonesia mencatat kinerja yang solid untuk layanan cash management system bernama Muamalat Digital… Read More
Poin Penting BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR sejak 1976 hingga April 2026 dengan… Read More
Poin Penting ALTO luncurkan ASKARA Connect dan ASKARA Collab untuk mengintegrasikan pemantauan, pengelolaan, dan analisis… Read More
Poin Penting optimistis pertumbuhan KPR tetap positif dalam 3–5 tahun ke depan, dengan target peningkatan… Read More
Poin Penting ALTO Network memproses ~30 juta transaksi per hari hingga Maret 2026, dengan kontribusi… Read More
Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More