BNI AM Proyeksikan IHSG 2026 Tembus 9.600, Ini Faktor Penopangnya

BNI AM Proyeksikan IHSG 2026 Tembus 9.600, Ini Faktor Penopangnya

Poin Penting

  • IHSG 2026 diproyeksikan di 9.000-9.600 oleh BNI AM, ditopang valuasi murah dan potensi pertumbuhan.
  • Kinerja emiten mulai membaik, meski belum merata di semua sektor.
  • Rotasi aset ke saham berpeluang terjadi seiring imbal hasil obligasi menurun.

Jakarta – PT BNI Asset Management (BNI AM) mencermati pergerakan pasar saham Indonesia atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2026 akan cenderung lebih konservatif, dengan estimasi berada di kisaran 9.000-9.600.

Meski demikian, Chief of Investment BNI AM, Farash Farich, tetap optimistis kinerja pasar saham domestik akan lebih positif dibandingkan tahun lalu.

Menurut Farash, pergerakan IHSG yang lebih positif pada 2026 tidak hanya didorong oleh valuasi saham yang masih relatif murah, tetapi juga oleh potensi perbaikan kinerja emiten, khususnya pada saham-saham sektor keuangan.

“Nah tahun ini valuasi masih murah di banyak saham big caps tuh masih banyak yang murah, belum naik banyak dan yang kedua sudah mulai ada cerita growth. Jadi ada dua ceritanya valuasi sama growth tahun ini untuk saham,” ujar Farash kepada Infobanknews dikutip, Kamis, 8 Januari 2026.

Baca juga: Menanti Gairah Kebangkitan Saham Perbankan, Siap Topang IHSG 2026?

Untuk kinerja emiten sepanjang 2025, Farash menilai pertumbuhannya belum terjadi secara merata di seluruh sektor.

Sektor-sektor yang mencatatkan pergerakan positif masih didominasi oleh sektor industri, pertambangan, emiten konglomerasi, serta beberapa sektor selektif seperti crude palm oil (CPO).

Seiring kondisi tersebut, IHSG terus menguat menjelang akhir semester II 2025 dan ditutup naik sekitar 20 persen di level 8.646.

“Sementara kalau kayak perbankan kan masih ketinggalan, telekomunikasi, otomotif tahun lalu baru belakangan banget ya mengejar itu kinerja sahamnya baru baik di akhir tahun,” imbuhnya.

Potensi Rotasi Aset dari Obligasi ke Saham

Lebih lanjut, Farash menilai akan terjadi rotasi aset dari kelas aset lain, khususnya obligasi, seiring dengan imbal hasil obligasi yang mulai menurun dan potensi capital gain yang semakin terbatas, meski pergerakannya masih positif.

“Valuasi terus potensi imbal hasil bond-nya sudah lebih rendah dari tahun lalu. Makanya kita pikir harusnya kinerja pasar saham tahun ini juga baik, tahun lalu positif harusnya tahun ini bisa lebih positif lagi kurang lebih seperti itu,” ujar Farash.

Sebagai informasi, IHSG di awal 2026 yang baru berjalan beberapa hari juga terus menunjukkan kinerja positif dan hampir menyentuh level 9.000.

Baca juga: IHSG Diramal Lanjut Ngegas, Ini 4 Saham yang Berpotensi Kasih Cuan

Diketahui, pada perdagangan Rabu, 7 Januari 2026, IHSG ditutup menguat di level 8.944,81 atau naik 0,13 persen dibandingkan posisi sebelumnya di 8.933,60, dengan level tertinggi tercatat di posisi 8.970,86. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62