Poin Penting
- Blokade Hormuz diperkirakan menekan produksi dan pasokan pangan global mulai semester kedua 2026.
- Penundaan tanam akibat keterbatasan pupuk dapat menurunkan hasil panen pada musim berikutnya.
- Krisis berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan memperparah kelaparan.
Jakarta – Blokade Selat Hormuz diperkirakan menekan produksi dan pasokan pangan global mulai semester kedua 2026. Dampaknya bahkan diperkirakan berlanjut hingga 2027 akibat gangguan aktivitas pertanian.
Direktur Kantor Penghubung FAO untuk Federasi Rusia, Oleg Kobiakov, menyampaikan proyeksi tersebut. Pernyataan itu disampaikan Kobiakov kepada RIA Novosti terkait dampak konflik Iran dan Amerika Serikat (AS).
Kobiakov mengatakan gangguan tersebut tidak berhenti pada kenaikan harga pangan saat ini. Dampaknya juga dapat memengaruhi hasil panen pada musim-musim berikutnya.
“Dampaknya tidak hanya berpengaruh pada tingkat harga saat ini, tetapi juga pada hasil panen di musim-musim berikutnya, sehingga menyebabkan penurunan produksi dan pasokan pangan pada paruh kedua tahun 2026 dan pada 2027,” kata Kobiakov kepada RIA Novosti dikutip Antara, Selasa, 15 September 2026.
Baca juga: Iran Perluas Daftar Hitam 77 Kapal di Selat Hormuz, Ketegangan Makin Memanas
Menurut Kobiakov, produksi pertanian mengikuti kalender tanam dengan jadwal yang tidak fleksibel. Penundaan selama beberapa pekan dapat membuat petani mengurangi penggunaan pupuk.
Bahkan, kondisi tersebut dapat membuat pupuk tidak digunakan sama sekali. Dampaknya berpotensi menurunkan hasil panen, terlepas dari kondisi pertanian setelahnya.
Hormuz Berisiko Tekan Harga Pangan
FAO juga melihat sejumlah guncangan akibat krisis tersebut saling berkaitan. Kondisi itu dapat meningkatkan tekanan terhadap harga pangan dan ketahanan pangan.
“Menurut analisis yang dilakukan FAO, berbagai guncangan yang saling terkait akibat krisis ini dapat menyebabkan kenaikan harga pangan serta meningkatnya kondisi kelaparan di negara-negara dan kawasan yang sudah terdampak krisis pangan berkepanjangan atau akut,” jelas Kobiakov.
Risiko tersebut terutama mengancam negara dan kawasan yang sudah menghadapi krisis pangan. Tekanan baru dapat memperburuk kondisi kelaparan yang sebelumnya sudah berlangsung.
Baca juga: Iran Ajukan Tujuh Syarat ke AS untuk Buka Selat Hormuz, Apa Saja?
Konflik Iran-AS Bikin Hormuz Hampir Lumpuh
Konflik bermula pada 28 Februari ketika AS dan Israel menyerang sejumlah target di Iran. Serangan tersebut kemudian memicu serangan balasan dari pihak Iran.
Pada pertengahan Juni, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri permusuhan. Namun, kedua pihak kembali saling menyerang setelah kesepakatan tersebut.
Hingga kini, konflik antara AS dan Iran masih belum terselesaikan. Eskalasi tersebut turut mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz.
Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan minyak dan gas alam cair global. Gangguan pelayaran bahkan membuat aktivitas melalui selat tersebut hampir terhenti total.
Baca juga: JP Morgan Ungkap Kekhawatiran Investor Asing soal Manipulasi Pasar
Kondisi itu kemudian memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara. Gangguan energi tersebut turut menjadi bagian dari tekanan yang mengancam produksi pangan global.
Dengan kondisi tersebut, Hormuz menjadi salah satu titik penting dalam risiko pasokan pangan dunia. Gangguan yang berlanjut dapat menekan produksi dan pasokan pangan hingga 2027. (*)
Editor: Yulian Saputra


