BKPM Optimis Proyek Sonic Bay Senilai USD2,6 Miliar Selesai Tepat Waktu

BKPM Optimis Proyek Sonic Bay Senilai USD2,6 Miliar Selesai Tepat Waktu

Realisasi Investasi 2022 Ditargetkan Capai Rp1.200 Triliun
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melakukan pertemuan dengan Badische Anilin-und Soda-Fabrik (BASF) untuk membahas terkait rencana investasi BASF di Indonesia yang diperkirakan akan meraup nilai investasi hingga USD2,6 miliar.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Investasi/BKPM, Bahlil Lahadalia akan mendorong rencana investasi pemurnian nikel untuk keperluan pengembangan kendaraan listrik di Maluku Utara.

Rencananya, BASF akan bekerja sama dengan Eramet yang telah memiliki legalitas usaha atas nama PT Eramet Halmahera Nikel (PT EHN) melalui Proyek Sonic Bay berlokasi di Kawasan Industri Teluk Weda, Maluku Utara.

“Saya mendukung penuh rencana investasi BASF di Indonesia khususnya dalam mendukung pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik. Kami di Kementerian Investasi/BKPM akan mengawal segala proses investasi BASF dari awal hingga akhir agar proyek ini bisa segera terlaksana,” ucap Bahlil dikutip 18 Januari 2023.

Proyek Sonic Bay diperkirakan akan meraup nilai investasi hingga USD2,2-2,6 miliar dengan kapasitas produksi sebesar 67 ribu ton nikel/tahun dan 7,5 ribu ton kobalt/tahun. Rencana investasi tersebut merupakan tindak lanjut BASF yang bertujuan untuk memproduksi Mixed Hydroxide Precipitates
(MHP) menjadi prekursor baterai listrik.

Pada kesempatan tersebut CEO BASF, Martin Brudermüller juga mengungkapkan apresiasinya terhadap keberhasilan pemerintah Indonesia dalam mewujudkan performa pertumbuhan ekonomi yang sangat baik bahkan mampu mengungguli negara-negara di Eropa.

“Kami ingin menyampaikan bahwa kesepakatan kami dengan Eramet sudah pada tahap final, kemungkinan keputusan kami akan diambil pada semester I-2023 ini. Nilai investasi yang akan kami gelontorkan kurang lebih €2,4 miliar dan akan mampu menciptakan lapangan pekerjaan secara langsung sebanyak 1.000 lapangan pekerjaan,” ujar Martin.

Adapun, BASF merupakan perusahaan multinasional asal Jerman dan produsen kimia terbesar di dunia yang saat ini bekerjasama dengan perusahaan pertambangan asal Prancis di bidang industri smelter pemurnian hidrometalurgi nikel dan kobalt yang menghasilkan produk bahan baku baterai kendaraan listrik. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]