Pameran Otomotif; Penjualan mobil meningkat. (Foto: Budi Urtadi)
Jepang merupakan negara dengan realisasi investasi tertinggi di Indonesia setelah Singapura. Sepanjang sepanjang 2010-semester 1 2015, realisasi investasi Jepang di Indonesia mencapai USD13,68 mliar. Ria Martati
Jakarta–Selama tiga hari (28-30 Juli 2015) kegiatan pemasaran investasi digelar, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menarik minat investasi senilai USD 641,9 juta.
Kepala BKPM Franky Sibarani dalam keterangan persnya di Jakarta, Jumat, 31 Juli 2015 menyebut, pihaknya mengidentifikasi adanya minat investasi terdiri dari USD134,9 juta perluasan investasi yang sudah existing dan USD 507 juta investasi yang baru akan masuk ke Indonesia.
Franky menambahkan, perluasan investasi yang sudah existing meliputi industri popok bayi senilai USD8,1 juta, industri conveyor belt USD54,2 juta dan industri wire harness USD72,6 juta.
Sementara itu, untuk minat investasi yang baru akan masuk ke Indonesia meliputi industri pengolahan rumput laut USD2 juta, industri komponen otomotif USD2,5 juta, sektor ketenagalistrikan USD500 juta dan industri boiler sebesar USD2,5 juta.
“Hal ini tentu menggembirakan, karena perusahaan Jepang tidak mengendurkan minatnya untuk berinvestasi di tengah kondisi perekonomian global yang belum stabil,” jelas Franky.
Franky juga optimistis minat investasi yang sudah disampaikan ke BKPM ini dapat terealisasi. Pasalnya, rasio realisasi investasi Jepang dibandingkan rencana investasinya sepanjang 2005-2014 yang mencapai 62,5%. Menurutnya, apabila minat investasi tersebut dapat terealisasi, terdapat potensi penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 10.475 orang, yang terdiri dari industri komponen otomotif 10.000 orang, industri popok bayi 220 orang, industri conveyor belt 100 orang, industri pengolahan rumput laut 55 orang dan industri boiler 100 orang.
“BKPM berupaya meningkatkan kualitas investasi di mana investasi yang masuk diharapkan dapat mendorong penyerapan tenaga kerja, mendorong peningkatan ekspor dan dapat menghemat devisa melalui substitusi impor,” tambah Franky. (*)
@ria_martati
Poin Penting Transaksi ilegal global capai USD158 miliar pada 2025, naik 145 persen. OJK perkuat… Read More
Poin Penting IAI bentuk ISRF untuk memperkuat ekosistem dan standar pelaporan keberlanjutan Dipimpin Ignasius Jonan,… Read More
Poin Penting BI mencatat pangsa kredit UMKM terhadap total kredit perbankan turun menjadi 17,49% pada… Read More
Oleh Krisna Wijaya, Honorable Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan indonesia (LPPI) KEHADIRAN artificial intelligence (AI) sudah… Read More
Poin Penting Sepanjang 2025, ACA membukukan premi sekitar Rp6 triliun, melonjak tajam dibandingkan lima-enam tahun… Read More
Poin Penting BI menilai penurunan outlook Moody’s tidak mencerminkan pelemahan ekonomi domestik. Stabilitas sistem keuangan… Read More