Moneter dan Fiskal

BKPM: Ekonomi Indonesia jadi Salah Satu yang Terbaik di Negara G20

Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tumbuh sebesar 5,72% secara tahunan tercatat sebagai salah satu yang terbaik di antara negara anggota G20, sebagaimana diungkapkan Menteri Investasi atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia hari ini. Pertumbuhan ekonomi 5,72% tersebut terjadi di tengah perlambatan perekonomian dan ancaman resesi global.

“Ini adalah salah satu pertumbuhan ekonomi terbaik di antara negara-negara G20. Ini adalah kerja semua pihak, termasuk media yang sering memberitakan hal-hal positif, sektor rumah tangga yang kembali hidup, sektor konsumsi, industri, dan lainnya,” ujar Bahlil di Jakarta, Kamis, 10 November 2022.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan pertumbuhan yang berkualitas dimana pertumbuhan terjadi bukan hanya mengandalkan sektor konsumtif, tapi juga produktif. Sektor investasi misalnya tercatat naik hampir 28% sampai 30%. Lalu, ada pula ekspor impor yang masing-masing tumbuh 26,23% dan 21,65%.

“Impor itu terkait dengan peralatan mesin yang dibutuhkan untuk membangun industri dan bahan baku. Dengan begitu, konsep industrialisasi dan penciptaan nilai tambah bisa terwujud secara baik di Indonesia,” terang Bahlil.

Secara kumulatif, sepanjang Januari sampai September 2022, realisasi investasi mencapai Rp892,4 triliun atau 74,4% dari target yang ditetapkan Presiden Jokowi sebesar Rp1.200 triliun dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 965.122 orang. Sementara untuk kuartal III-2022 saja, realisasi investasi tercatat tumbuh 42,1% secara tahunan atau sebesar Rp307,8 triliun dari target Rp1.200 triliun di 2022.

“Di awal sudah saya sampaikan, kemungkinan besar dengan realisasi investasi yang tumbuh positif dan stabil tersebut, dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Dan ini sudah terbukti dimana pertumbuhan ekonomi kita bisa mencapai 5,72%. Ini adalah pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak saya masuk ke kabinet, sekaligus juga pertumbuhan ekonomi tertinggi yang melampui era sebelum covid,” tutur Bahlil.

Namun, ia tetap mewanti-wanti bahwa rintangan belum lah usai. Rintangan dari nilai tukar rupiah yang fluktuatif hingga harga minyak mentah yang melonjak, masih perlu dihadapi dan ditangani secara baik oleh segenap masyarakat Indonesia.

“Di satu sisi kita harus menahan agar nilai tukar tetap terjaga. Dan di sisi lain, harga minyak yang sekalipun naik, kita tetap harus menjaga inflasi,” tutupnya. (*) Steven Widjaja

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Komisi III DPR Dorong Class Action usai Kekerasan Debt Collector Berulang

Poin Penting Anggota Komisi III DPR RI Abdullah mengusulkan gugatan class action menyusul kembali terjadinya… Read More

24 mins ago

Laba BNI Tumbuh 3,45 Persen Jadi Rp1,68 Triliun di Januari 2026

Poin Penting BNI membukukan laba bersih Rp1,68 triliun pada Januari 2026, naik 3,45 persen yoy… Read More

1 hour ago

IHSG Perkasa di 8.322, CARS dan TKIM jadi Top Gainers

Poin Penting IHSG ditutup naik ke level 8.322,22 pada 25 Februari 2026, dengan 336 saham… Read More

2 hours ago

5 Strategi Penting Perusahaan Asuransi Syariah Pasca Spin Off

Poin penting PT Asuransi Tri Pakarta memisahkan Unit Usaha Syariah menjadi PT Asuransi Tri Pakarta… Read More

2 hours ago

Kemenkeu Klaim Kesepakatan Pajak Digital dengan AS Tak Ganggu PPN PSME

Poin Penting Kemenkeu memastikan kesepakatan dagang dengan AS tidak mengganggu pemungutan PPN PMSE Indonesia tidak… Read More

2 hours ago

Mendes Minta Setop Izin Baru Alfamart-Indomaret di Desa, Ini Alasannya

Poin Penting Mendes mengusulkan penghentian izin baru minimarket di desa untuk melindungi usaha rakyat dan… Read More

3 hours ago