BI Rate Diprediksi Tetap 5,5 Persen, Ini Dampaknya ke Saham dan Obligasi

Jakarta – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi suku bunga Bank Indonesia (BI) atau BI Rate masih akan ditahan pada level 5,5 persen hingga akhir tahun. Keputusan ini juga mempertimbangkan kebutuhan waktu bagi industri perbankan untuk melakukan penyesuaian dalam menurunkan suku bunga kredit.

Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menyebut likuiditas perbankan juga diperkirakan baru akan lebih longgar memasuki semester II 2025.

“Di tengah tekanan Trump agar The Fed menurunkan Fed Fund Rate (FFR) secara agresif, kami memprediksi Bank Sentral AS masih akan berusaha berhati-hati dan melihat perkembangan data ekonomi untuk menentukan seberapa besar dan seberapa cepat penurunan suku bunga ke depan,” ujar Rully dalam paparannya di Jakarta, Selasa, 15 Juli 2025.

Meski demikian, di tengah masih adanya volatilitas dan ketidakpastian ekonomi yang tinggi, terjadi tren capital outflow yang cukup besar di pasar saham Indonesia meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih positif.

Baca juga: Dana Asing Kabur Rp1,17 T, BMRI dan CUAN Masuk 5 Saham Terbanyak Dijual

Diketahui, IHSG tercatat masih menguat ke level 7.091 dari posisi akhir tahun 7.079, ketika aliran dana asing bergerak keluar atau foreign outflow senilai Rp57,9 triliun sejak awal tahun atau year-to-date (YtD) hingga 11 Juli 2025.

Berdasarkan hal itu, sepanjang Juli, foreign outflow sudah terjadi sebesar Rp4,3 triliun, yang menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan saham di dalam negeri yang menguat itu didukung oleh investor domestik.

Pasar Obligasi Didorong Inflow dan Ekspektasi Penurunan FFR

Berbeda dengan pasar saham, tren harga obligasi masih menunjukkan kenaikan dari penurunan imbal hasil (yield), hal itu sejalan dengan aliran dana asing masuk (foreign inflow) yang cukup besar. 

Di mana, sepanjang Juli, tercatat nett buy asing Rp17,2 triliun MtD atau Rp70 triliun YtD yang dipengaruhi oleh pemangkasan BI Rate pada semester I 2025 dan ekspektasi penurunan FFR pada semester II 2025.

Baca juga: RDG Juli 2025: BI Diramal Belum Turunkan Suku Bunga

Adapun dengan pemangkasan tersebut, berdampak positif pada pasar obligasi yang dapat mendorong kenaikan harga obligasi dan penurunan yield-nya, yang mana pergerakan harga saham dan yield obligasi bertolak belakang di pasar. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Kredit Macet, Bisnis Gagal atau Niat Jahat? OJK Harus Berada di Depan Bank

Oleh Eko B. Supriyanto, Chairman Infobank Media Group KREDIT macet dalam perbankan bukan sekadar angka… Read More

10 hours ago

KPK Mencari “Pepesan Kosong” Dana Non Budgeter-Iklan Bank BJB, Terus Berputar-putar “Dikaitkan” Ridwan Kamil-Aura Kasih

Oleh Tim Infobank DI sebuah ruang pemeriksaan di Mapolda Jawa Barat, udara tak hanya berdebu… Read More

10 hours ago

BSI Gandeng Kadin Dorong UMKM Naik Kelas

Poin Penting BSI menggandeng Kadin untuk mendorong UMKM lokal naik kelas melalui sinergi pembiayaan, pembinaan,… Read More

10 hours ago

Bos Danantara Bantah Isu Perombakan Direksi Himbara

Poin Penting CEO Danantara Rosan Roeslani menegaskan hingga saat ini tidak ada pembahasan terkait rencana… Read More

15 hours ago

Purbaya Yakin IHSG Senin Pekan Depan Dibuka Tanpa Gejolak

Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa meyakini pembukaan IHSG pekan depan tidak terganggu meski sejumlah… Read More

16 hours ago

OJK–BEI Siap Berunding dengan MSCI Senin (2/2), Transparansi Free Float Jadi Fokus

Poin Penting BEI dan OJK dijadwalkan bertemu MSCI secara daring pada 2 Februari 2026 untuk… Read More

16 hours ago