Perbankan

BI Proyeksikan Pertumbuhan Kredit di Atas 8 Persen pada Akhir 2025

Poin Penting

  • BI memproyeksikan pertumbuhan kredit 2025 di atas 8%, lebih tinggi dari realisasi September yang 7,7% yoy.
  • Insentif likuiditas makroprudensial (KLM) sebesar Rp393 triliun disalurkan ke bank BUMN, swasta, BPD, dan asing.
  • Kebijakan BI fokus mendorong sektor prioritas seperti pertanian, perdagangan, manufaktur, real estate, dan UMKM.

Jakarta – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan akan mencapai di atas 8 persen pada akhir 2025. Meskipun hingga September 2025, pertumbuhan kredit baru tercatat 7,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Adapun BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional 2025 berada di kisaran 8 hingga 11 persen.

“Pertumbuhan kredit di akhir tahun kami prognosakan bisa di atas 8 persen (2025), sehingga dalam kisaran 8 hingga 11 persen,” ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, dikutip, Kamis, 13 November 2025.

Perry menjelaskan, BI terus memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendukung peningkatan kredit. Beberapa langkah ditempuh melalui penurunan suku bunga acuan, penambahan likuiditas, dan pemberian kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM).

“Kami terus mendorong berbagai kebijakan-kebijakan BI di makroprudensial untuk mendorong kredit dan beberapa aspek, memang koordinasi bagaimana mendorong permintaan kredit,” imbuhnya.

Baca juga: BRI Targetkan Pertumbuhan Kredit hingga 9 Persen di Akhir 2025

Perry juga menuturkan fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) meningkat hingga 35 persen dari plafon kredit yang tersedia. Menurutnya, hal ini menunjukan permintaan kredit masih tinggi yang memberikan ruang pertumbuhan terhadap kredit ke depan.

Sementara, koordinasi moneter dan fiskal terus dilakukan agar kebijakan fiskal dapat mendorong pertumbuhan kredit dari sisi permintaan.

Baca juga: Pelaku Pasar Cermati Arah Kebijakan Fiskal Menkeu Purbaya

Selain itu, BI juga memberikan insentif KLM sebesar Rp393 triliun kepada bank-bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Terdiri dari bank BUMN menerima sebesar Rp173,6 trilun, bank swasta Rp174,4 triliun, BPD Rp39,1 triliun, dan kantor cabang bank asing Rp5,7 triliun.

“Secara sektoral insentif kebijakan likuiditas kami salurkan kepada sektor-sektor prioritas yang kemudian menjadi pilar dari asta cita pemerintah. Antara lain sektor pertanian, perdagangan dan manufaktur, real estate, perumahan rakyat, konstruksi, transformasi, pergudangan, maupun juga khususnya UMKM, ultra mikro dan hijau,” papar Perry. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Recent Posts

Ini Plus Minus Implementasi Demutualisasi BEI

Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More

9 hours ago

DPR Soroti Konten Sensasional Jadi Pintu Masuk Judi Online

Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More

9 hours ago

Program Gentengisasi Prabowo, Menkeu Purbaya Proyeksi Anggaran Tak Sampai Rp1 T

Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More

10 hours ago

Fundamental Kokoh, Bank BPD Bali Catatkan Pertumbuhan Positif dan Rasio Keuangan Sehat

Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More

10 hours ago

Demutualization of the IDX, a “Bloodless” Coup Three OJK Commissioner Resign Honourably

By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More

10 hours ago

Danantara Dukung Reformasi Pasar Modal dan Kebijakan Free Float OJK, Ini Alasannya

Poin Penting Danantara menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal yang digulirkan OJK, termasuk kebijakan… Read More

12 hours ago