News Update

BI Proyeksi Permintaan Rumah di Balikpapan Meningkat, Ini Pendorongnya

Poin Penting:

  • BI memproyeksikan permintaan rumah di Balikpapan meningkat pada 2026 seiring kelanjutan pembangunan IKN.
  • Penyaluran KPR tetap dominan dengan nilai Rp4,97 triliun atau 78 persen dari total transaksi properti.
  • Stabilitas kredit dan meningkatnya aktivitas ekonomi menjaga daya beli masyarakat terhadap hunian.

Jakarta — Bank Indonesia (BI) memperkirakan permintaan rumah di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur akan mengalami peningkatan pada 2026. Proyeksi BI ini didorong oleh berlanjutnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang memberi dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi di wilayah penyangga.

Kepala Perwakilan BI Kota Balikpapan, Robi Ariadi, menyatakan bahwa keberlanjutan proyek IKN menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan kebutuhan hunian di kota tersebut.

“Pembangunan IKN berlanjut tahap dua dan aktivitas industri yang mulai bergerak meningkatkan mobilitas pekerja diperkirakan memberi dorongan tambahan bagi pasar perumahan,” ujar Robi Ariadi, dikutip Antara, Sabtu (4/4/2026).

Baca juga: IKN Dapat Tambahan Anggaran, DPR: Tidak Usah Tergesa-gesa

BI: KPR Tetap Jadi Tulang Punggung Pasar Properti

BI mencatat, pembiayaan melalui kredit pemilikan rumah (KPR) masih menjadi andalan masyarakat dalam memiliki hunian di Balikpapan. Dominasi KPR menunjukkan bahwa akses pembiayaan tetap menjadi penopang utama pasar properti.

“Porsi penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) masih dominan, dinilai pembiayaan perumahan tetap menjadi salah satu penopang penting bagi pasar properti Balikpapan,” tambahnya.

Pada akhir 2025, penyaluran KPR di Balikpapan mencapai Rp4,97 triliun atau sekitar 78 persen dari total transaksi properti. Angka tersebut menegaskan bahwa KPR masih menjadi skema utama kepemilikan rumah, terutama karena harga hunian yang relatif tinggi jika dibayar tunai.

Permintaan Rumah Tetap Tumbuh di Tengah Perlambatan

Meski pasar residensial tercatat melambat dibandingkan periode sebelumnya, BI menilai minat masyarakat terhadap rumah tapak masih terjaga. Bahkan, penjualan rumah tipe besar menunjukkan performa lebih baik menjelang akhir 2025.

Kondisi ini mengindikasikan adanya segmen konsumen yang tetap aktif, khususnya mereka yang membutuhkan hunian dengan ruang lebih luas atau memiliki kemampuan finansial lebih kuat.

Pertumbuhan penyaluran KPR juga masih mencatat kenaikan sebesar 4,16 persen secara tahunan, meskipun tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Stabilitas ini turut ditopang oleh rasio kredit bermasalah yang tetap terjaga di bawah lima persen.

Menurut BI, kondisi tersebut mencerminkan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kewajiban kredit masih relatif stabil di tengah dinamika ekonomi.

Baca juga: Harga Plastik Melonjak Dampak Perang Iran, Apa Langkah Pemerintah?

BI: Pembiayaan Jadi Solusi Kepemilikan Rumah

Lebih lanjut, BI menilai besarnya penyaluran KPR menunjukkan bahwa pembiayaan menjadi solusi utama bagi masyarakat untuk memiliki rumah di Balikpapan. Tingginya harga properti membuat skema cicilan jangka panjang menjadi pilihan rasional bagi banyak keluarga.

Dengan berlanjutnya pembangunan IKN, BI memproyeksikan permintaan rumah di Balikpapan akan terus menguat, seiring meningkatnya mobilitas pekerja dan aktivitas industri di kawasan tersebut. (*)

Editor: Galih Pratama

Prima Gumilang

Recent Posts

Dapat Restu Prabowo, Purbaya Mau Caplok dan Ubah PNM jadi Bank UMKM

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengusulkan pengambilalihan PNM dari BPI Danantara untuk dijadikan… Read More

33 mins ago

Rawan Kejahatan Siber, CIMB Niaga Perkuat Keamanan OCTO Biz dengan Sistem Berlapis

Poin Penting Keamanan OCTO Biz diperkuat dengan sistem berlapis termasuk enkripsi data, autentikasi pengguna, dan… Read More

1 hour ago

Permudah Akses Investasi, KB Bank Syariah Hadirkan Deposito iB Online

Poin Penting KB Bank Syariah menghadirkan layanan deposito digital melalui aplikasi BISA Mobile untuk memperluas… Read More

2 hours ago

Purbaya Lapor APBN Tekor Rp240,1 Triliun di Kuartal I 2026

Poin Penting Defisit APBN kuartal I 2026 mencapai Rp240,1 triliun (0,93 persen PDB), lebih tinggi… Read More

2 hours ago

Banggar DPR Tolak Pemangkasan Subsidi BBM di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Poin Penting: Ketua Banggar DPR menolak pengurangan subsidi BBM karena dinilai membebani masyarakat kecil. Penyesuaian… Read More

2 hours ago

Pemerintah Batasi Tiket Pesawat Naik 9-13 Persen, Gelontorkan Subsidi Rp2,6 T

Poin Penting Kenaikan tiket pesawat domestik dibatasi 9-13% untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah… Read More

2 hours ago