“Situasinya saat ini Fed Fund rate naik dan ada juga perubahan kepemimpinan di AS yang dianggap lebih berisiko,” ucapnya.
Kendati demikian, kata dia, meski tantangan dari eksternal tidak semakin mereda, namun pengelolaan makroekonomi yang dilakukan pemerintah dan BI bisa diterima oleh pasar secara baik. “Kami anggap itu menunjukkan adanya persepsi yang positif,” papar Mirza.
Mirza menambahkan, bahwa saat ini situasi pasar obligasi terus membaik. “Walaupun Fed Fund rate akan mengalami kenaikan dua kali lagi di 2017, semoga capital inflow ke Indonesia bisa tetap besar plus net Foreign Direct Investment (FDI) bisa mengalami kenaikan,” tutupnya. (*)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Poin Penting Kolaborasi budaya–bisnis: Ajang Meet and Greet Miss Japan 2026 jadi momentum networking Indonesia–Jepang,… Read More
Poin Penting LPEI membukukan laba bersih Rp252 miliar pada 2025, naik 8 persen yoy, ditopang… Read More
Poin Penting Transaksi ilegal global capai USD158 miliar pada 2025, naik 145 persen. OJK perkuat… Read More
Poin Penting IAI bentuk ISRF untuk memperkuat ekosistem dan standar pelaporan keberlanjutan Dipimpin Ignasius Jonan,… Read More
Poin Penting BRI Insurance salurkan bantuan Rp230 juta untuk korban bencana di Pidie Jaya (Aceh)… Read More
Poin Penting BI mencatat pangsa kredit UMKM terhadap total kredit perbankan turun menjadi 17,49% pada… Read More