Poin Penting
- BI memperkuat transaksi LCT untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Nilai transaksi LCT per April 2026 naik 309 persen yoy menjadi USD22,61 miliar
- Jumlah pelaku LCT terus meningkat, dari 497 pelaku pada 2021 menjadi 5.265 pelaku hingga April 2026.
- Tiongkok menjadi mitra terbesar transaksi LCT Indonesia dengan kontribusi 89 persen, disusul Jepang dan Malaysia.
Makassar – Bank Indonesia (BI) menyatakan transaksi Local Currency Transaction (LCT) semakin diperlukan guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah dinamika dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A. Cussoy Intama menyebutkan, skema transaksi menggunakan mata uang lokal ini sekaligus juga meningkatkan efisiensi perdagangan antarnegara.
Berdasarkan data BI hingga April 2026, rata-rata bulanan pelaku LCT mencapai 5.265 pelaku. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan 497 pelaku pada 2021 dan 1.741 pelaku pada 2022.
Tren kenaikan ini berlanjut pada 2023 yang mencapai 2.602 pelaku, lalu melonjak menjadi 5.020 pelaku pada 2024. Bahkan pada 2025, rata-rata bulanan pelaku LCT sempat menembus 9.720 pelaku.
Baca juga: Transaksi LCT Tembus USD6,23 M, Indonesia-China Gaspol Uji Coba QRIS Lintas Negara
“LCT ini menurut kami merupakan salah satu inisiatif yang perlu terus dikembangkan, apalagi sejak Presiden AS menerapkan Liberation Day. Jadi sudah saatnya kita memperkuat kerja sama bilateral melalui skema LCT,” kata Ruth dalam Pelatihan Wartawan di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat, 22 Mei 2026.
Ruth mengungkapkan, sejumlah negara kini mulai mempercepat kerja sama bilateral penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi melalui bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Indonesia disebut menjadi salah satu negara yang cukup agresif mendorong implementasi LCT dan mulai mendapat pengakuan dari negara-negara mitra.
Selain itu, hingga April 2026, nilai transaksi LCT tercatat mencapai USD22,61 miliar atau naik 309 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD7,33 miliar.
Kenaikan volume transaksi LCT ini mencerminkan semakin luasnya diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional.
Menurut Ruth, langkah tersebut dapat mengurangi dampak gejolak global, terutama fluktuasi dolar AS, terhadap transaksi perdagangan dan keuangan antarnegara.
“Bukan kita menghindari dolar AS, karena kita tahu transaksi global masih dominan menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara yang memang memiliki volume transaksi besar dan bisa langsung domestik (mata uang), kenapa harus lewat dolar dulu?,” pungkasnya.
Adapun negara mitra utama Indonesia dalam implementasi LCT saat ini adalah Tiongkok, Jepang, dan Malaysia. Kontribusi transaksi terbesar berasal dari Tiongkok sebesar 89 persen, disusul Jepang 6 persen, dan Malaysia 3 persen.
Baca juga: BI Pangkas Batas Pembelian Dolar AS jadi 25.000 Dolar Mulai Juni 2026
Skema LCT dinilai mampu meningkatkan efisiensi biaya transaksi karena pelaku usaha tidak perlu lagi menggunakan dolar AS sebagai mata uang perantara dalam perdagangan bilateral.
LCT juga dipandang dapat mendorong diversifikasi eksposur mata uang, memperdalam pasar keuangan regional, hingga memperluas akses partisipasi pelaku pasar di kawasan.
“Perkembangan LCT yang dilakukan Bank Indonesia diawali dengan Malaysia dan Thailand, kemudian berkembang ke Jepang, China, Korea, Singapura, dan India. Dalam waktu dekat yang akan segera diimplementasikan adalah Singapura, India, dan Saudi Arabia,” imbuh Ruth. (*)
Editor: Galih Pratama


