Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damanyanti, dalam acara Infobank Starting Year Forum 2026 pada sesi Executive Lecture: Driving Financial Resilience - Anticipating Economic and Financial Outlook 2026, Kamis, 22 Januari 2026. (Foto: M. Zulfikar)
Poin Penting
Jakarta – Pertumbuhan sistem pembayaran di Indonesia terbilang sangat pesat. Bank Indonesia (BI) melihat perkembangan sistem pembayaran Tanah Air kini menjadi “senjata” bagi Indonesia untuk membantu menggerakan roda ekonomi.
Hal itu disampaikan Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damanyanti dalam acara Infobank Starting Year Forum, pada sesi Executive Lecture: Driving Financial Resilience – Anticipating Economic and Financial Outlook 2026, Kamis, 22 Januari 2026.
“Game changer di Indonesia itu sebenarnya adalah sistem pembayaran. Bayangkan kalau kita belum mempunyai sistem pembayaran seperti sekarang. Transaksi benar-benar kita harus datang langsung. Pasti velocity-nya akan lebih lambat dibandingkan kalau bayar dengan digital,” ungkap Destry.
Baca juga: Bos BI: Kredit Nganggur Bank Masih Tinggi, Tembus Rp2.439,2 Triliun
Menurut Destry, melesatnya sistem pembayaran dalam negeri diawali dengan peluncuran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Kehadirannya menjadi tonggak awal dari digitalisasi sistem pembayaran dalam negeri.
Per kuartal-IV 2025, total merchant QRIS sudah mencapai 42,75 juta merchant, yang mana 92 persen di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Volume transaksi sudah menyentuh 5,18 miliar atau tumbuh 139,99 persen secara tahunan (yoy), dengan nilai sebesar Rp460,99 triliun, naik 107,22 persen (yoy).
“Kecepatan bertransaksi, dalam 3 tahun terakhir, itu naiknya luar biasa. Dari yang tadinya Rp600 juta transaksi per kuartal-I tahun 2022, kuartal pertama 2022, itu meningkat jadi Rp1.600 juta transaksi per kuartal pada kuartal-IV 2025,” terang Destry.
Baca juga: QRIS Bisa Dipakai di Tiongkok-Korsel Mulai Kuartal I 2026
Volume transaksi antar-bank juga terus meningkat. Destry menilai, kalau ini berefek positif terhadap perputaran uang di kalangan masyarakat, sehingga ikut mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
“Jadi bayangkan, itu meningkatnya hampir 3 kali lipat. Kalau velocity (uang) terus berputar, maka sebuah aktivitas ekonomi itu akan ada terus,” imbuhnya.
Dengan demikian, BI akan terus menjadikan sistem pembayaran sebagai salah satu dari lima kebijakan utama bank sentral, bersama dengan moneter dan makroprudensial, yang ditopang dengan kebijakan-kebijakan lain macam pendalaman pasar uang dan keuangan hijau. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Rupiah tertekan faktor global dan domestik, dengan depresiasi mendekati Rp17.000 per dolar AS;… Read More
Poin Penting IHSG melemah 0,20% ke level 8.992,18, meski beberapa indeks unggulan seperti IDX30 dan… Read More
Poin Penting Ketentuan UU BUMN yang menyebut kerugian BUMN bukan kerugian negara belum selaras dengan… Read More
Poin Penting BI memproyeksikan The Fed hanya memangkas FFR satu kali pada semester I 2026,… Read More
Poin Penting KPK menilai UU Perbendaharaan dan Keuangan Negara menghambat penanganan korupsi, khususnya di sektor… Read More
Poin Penting BPKP menjalankan dua fungsi utama pengawasan BUMN, yakni melalui Multi Level Governance dan… Read More