Poin Penting
- Ada tiga jalur dampak utama akibat perang AS-Iran, yakni jalur finansial, komoditas, dan perdagangan & produksi
- Dampak finansial dominan tidak langsung: keterlibatan AS meningkatkan risiko global, mendorong penguatan dolar, arus modal keluar, dan tekanan pada nilai tukar termasuk Indonesia
- Efek campuran bagi Indonesia: harga minyak naik memberi tekanan, namun kenaikan harga komoditas ekspor (batubara, CPO, emas) memberi peluang.
Jakarta – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti membeberkan tiga jalur dampak perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.
Destry mengatakan kedalaman dampak perang di Timur Tengah terhadap ekonomi global dipengaruhi oleh faktor intensitas, besaran kerusakan, dan durasi perang.
Pertama, jalur finansial yang terdiri dari dampak langsung dan dampak tidak langsung. Untuk dampak langsung dari perang, Iran dan Israel memang bukan financial hub secara global, sehingga pengaruhnya ke sektor keuangan tidak terlalu besar dan reaksi pasar middle east relatif terbatas.
Baca juga: Meski Ada Perang, Airlangga Yakin Ekonomi RI Tumbuh 5,4 Persen
Namun, dampak secara tidak langsung akan sangat besar, karena melibatkan negara besar seperti AS yang merupakan financial hub. Dengan begitu, dampaknya akan terasa pada ketidakpastian pasar keuangan global dan sentimen risiko yang meningkat.
“Jadi bukan hanya middle east saja yang kena atau Iran, tapi justru yang di luar itu mereka ketidakpastiannya dan risiko finansialnya memang meningkat,” kata Destry dalam Central Banking Forum 2026, Senin, 13 April 2026.
Selain itu, terjadinya risk off di mana investor cenderung menghindari aset yang berisiko tinggi, sehingga aktivitas safe haven meningkat. Akibatnya, aliran modal bergeser dari negara berkembang ke negara maju. Hal itu membuat indeks dolar AS meningkat yang memberikan tekanan terhadap nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Kemudian juga flow ke emerging market, jadi bukan hanya ke Indonesia, tapi ke emerging market juga berkurang. Di Indonesia pun kita merasakan, walaupun alhamdulillah sekarang sudah mulai kita lihat inflow ada masuk di SBN, di saham mulai sedikit, di SRBI, tapi overall kita masih terjadi outflow sekitar Rp21 triliun. Yang terjadi adalah ekpektasi inflasi, risk premium naik khususnya terkait dengan fiskal, karena adanya kenaikan pada yield di berbagai negara,” ungkapnya.
Kemudian, kata Destry, jalur kedua adalah harga komoditas yang terdampak langsung yaitu harga minyak dengan ditutupnya Selat Hormuz, akibatnya terjadi gangguan distribusi. Berdasarkan hitungan BI, meskipun pangsa produksi minyak Iran hanya 5 persen terhadap global, namun gangguan distribusi tersebut mencaoai 20 persen dari suplai minyak global.
“Sehingga meningaktkan harga minya, ini semua ketidakpastiannya tinggi banget ya, mungkin 3 hari yang lalu kita menganggap oh sudah tercapai kesepakatan antara Amerika dengan Iran. Tapi semalam dapet kabar ternyata perundingannya belum ada kesepakatan. Jadi akibatnya semua naik tuh, tengah malam naik semua, pagi-pagi tadi kita lihat semua naik. DXY-nya naik kenceng kembali di atas 100, kemudian mata uang regional, baik itu yang global yang advance ekonomis, mengalami pelemahan,” imbuhnya.
Kemudian, dampak tidak langsung dari perang ini juga mempengaruhi harga komoditas. Kenaikan harga emas, batu bara, dan alumunium serta Crude Palm Oil (CPO).
“Sebenarnya indirect impact-nya ini cukup bagus buat Indonesia. Karena Indonesia kan juga menghasilkan batubara, kita ada CPO, kita juga punya emas yang bisa kita ekspor. Jadi ini dampaknya tuh bisa dua sisi, memang harga minyak naik, tapi ada harga komoditi lain yang menjadi ekspor utama Indonesia juga meningkat,” ujar destry.
Selain itu, jalur ketiga, yakni perdagangan dan produksi. Menurutnya, pangsa Produk Domestik Bruto (PDB) Iran terhadap PDB global relative kecil, hanya di bawah 1 persen, begitupun nilai ekspor-impor Iran terhadap total perdagangan juga di bawah 1 persen. Namun, hambatan di Selat Hormuz mengakibatkan disrupsi pada rantai pasok UEA dan Arab Saudi.
“Yang tentunya menimbulkan indirect impact untuk negara-negara lain, seperti disruption untuk supply ke mitra dagang utama Iran, yang utamanya adalah Tiongkok, Irak, UAE, Turki, dan Indonesia,” jelasnya.
Destry menyebutkan, dengan tiga jalur ini ekonomi global akan melambat dan inflasi akan meningkat.
“Ini kondisi yang nggak terlalu bagus buat ekonomi global ya, yang namanya stagflasi. Ekonominya stagnan, inflasinya naik gitu. Nah jadi ini yang tentu dampaknya respons kebijakan ini menjadi penting. Beberapa negara, beberapa negara melakukan respons kebijakan, fiskalnya akan lebih longgar. Kemudian juga kebijakan moneter yang tadi akan mulai tren ke bawah, mereka akan lebih berhati-hati,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama





