Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengaku sedang mengamati tren penerbitan mata uang digital yang akan dirilis plat from media sosial Facebook bernama Libra.
Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Juda Agung mengatakan, bank sentral sedang mengamati apakah Libra termasuk dalam Cryptocurrency atau bukan.
“Kami Bank Indonesia tentu saha terus mencermati, karena ini kan belum keluar, baru di-announced. Kalau tidak salah kuartal I, tahun depan dirilis,” kata Juda di Jakarta, Rabu, 26 Juni 2019.
Juda menyebut, sebelumnya BI telah melarang penggunaan bitcoin sebagai alat transaksi, begitu juga dengan beberapa negara. Pelarangan itu, menurutnya karena tidak jelas dasar hukum atau underlying-nya.
Kedua, Juda menyebut larangan penggunaan cryptocurrency tersebut lantaran banyak unsur spekulasinya serta jumlah yang semakin lama semakin terbatas.
“Kemarin baru muncul Libra currency yang dikeluarkan oleh Facebook, pada intinya alat pembayaran yang sah di Indonesia adalah rupiah. Jadi di luar rupiah, itu alat pembayarannya tidak sah,” tambah Juda.
Sebagai informasi, CEO Facebook Mark Zuckerberg pada akun pribadinya, Selasa, 18 Juni 2019 mengatakan, mata uang digital akan segera bertambah satu seiring dengan kehadiran Libra. Mata uang digital buatan Facebook yang sedang dipersiapkan kehadiran
nya pada 2020 mendatang. (*)
Editor: Rezkiana Np
Poin Penting Demutualisasi BEI membuka peluang investor asing menjadi pemegang saham, mengikuti praktik bursa efek… Read More
Poin Penting Demutualisasi BEI dinilai tidak memicu konflik kepentingan, karena pengaturan dan pengawasan tetap di… Read More
Poin Penting BTN Expo 2026 ditutup dengan Awarding BTN Housingpreneur 2025, menyoroti lahirnya 58 inovator… Read More
Poin Penting Jeffrey Hendrik digadang menjadi Pjs Dirut BEI, namun memilih menunggu pengumuman resmi. Penunjukan… Read More
Poin Penting OJK memastikan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga usai penunjukan Friderica Widyasari Dewi sebagai… Read More
Poin Penting OJK dan SRO akan menaikkan batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi… Read More