Ilustrasi: Proyek Agung Podomoro Land. (Foto: Dok. Infobank)
Jakarta – Di tengah pasar properti yang menantang, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) mencatatkan marketing sales sebelum Pajak Pertambahan Nilai (PPN) senilai Rp445 miliar hingga April 2025.
Marketing sales APLN selama periode April 2025 tersebut berasal dari proyek Podomoro Park Bandung, diikuti oleh Bukit Podomoro Jakarta dan Podomoro City Deli Medan.
Corporate Secretary APLN, Justini Omas, menyatakan bahwa, capaian marketing sales itu mencerminkan resiliensi dan daya saing proyek-proyek APLN di tengah dinamika pasar properti yang cenderung melambat selama bulan Ramadan, namun APLN tetap berhasil mempertahankan momentum penjualan.
Baca juga: Menteri Ara Kumpulkan Bos BCA dan Tokoh Properti Indonesia, Bahas Apa?
“Capaian ini menunjukkan bahwa strategi kami dalam merancang proyek yang sesuai kebutuhan pasar, baik sebagai hunian maupun instrumen investasi berhasil menjawab permintaan konsumen, terutama di kawasan yang berkembang pesat seperti Bandung, Medan, dan Karawang,” ucap Justini dalam keterangan resmi dikutip, 23 Mei 2025.
Diketahui pada kuartal I 2025, APLN masih mencatatkan rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp62,08 miliar. Meski demikian, rugi tersebut telah mengalami penyusutan sebanyak 50,92 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp126,49 miliar.
Penyusutan rugi tersebut didukung oleh kenaikan penjualan dan pendapatan usaha per Maret 2025 yang naik 22,68 persen menjadi Rp874,49 miliar dari Rp712,79 miliar.
Kenaikan itu didukung oleh pos bagian laba neto entitas asosiasi yang naik menjadi Rp22,33 miliar dan keuntungan lainnya neto sebesar Rp14,26 miliar.
Lebih lanjut, Justini menegaskan bahwa penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) menjadi sinyal positif yang akan dimaksimalkan perseroan, yang mana BI telah menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 21 Mei 2025.
“Kebijakan ini memberikan angin segar bagi industri properti, karena turut mendorong peningkatan daya beli masyarakat dan membuka peluang lebih besar untuk mendorong transaksi, baik di segmen residensial maupun komersial,” imbuhnya.
Baca juga: Pimpin Pangsa Pasar Properti, JLL Indonesia Cetak Transaksi USD432 Juta
Optimisme ini turut diperkuat oleh proyeksi pertumbuhan sektor properti nasional, di mana Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) menyatakan bahwa investasi di sektor properti residensial dan komersial diperkirakan akan tumbuh sebesar 15–18 persen sepanjang 2025.
Kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga diprediksi meningkat dari 10 persen pada tahun 2024 menjadi 11,5 persen di tahun ini.
Di sisi lain, permintaan terhadap Kredit Pemilikan Rumah (KPR) diproyeksikan tumbuh hingga 20 persen secara tahunan (year on year), didorong oleh suku bunga yang lebih kompetitif, kemudahan akses pembiayaan, serta berbagai insentif pemerintah. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat pada 2025, mencapai… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya temukan 40 perusahaan baja asal China dan Indonesia yang diduga mengemplang… Read More
Poin Penting Permata Bank menargetkan pertumbuhan transaksi kartu kredit 20% lewat Travel Fair 2026 bersama… Read More
Poin Penting Permata Bank optimistis kredit konsumer tumbuh sekitar 10 persen pada 2026, dengan prospek… Read More
Poin Penting OTT pegawai pajak dinilai momentum bersih-bersih institusi, bukan cerminan keseluruhan DJP. DPR menegaskan… Read More
Poin Penting Trump mengancam tarif 25% bagi negara yang berdagang dengan Iran, berlaku untuk seluruh… Read More