Poin Penting
- Belanja pemerintah pusat mencapai Rp826 triliun hingga April 2026.
- Belanja K/L naik signifikan dipicu program MBG, bansos, dan pembayaran THR.
- Total realisasi belanja negara mencapai Rp1.082,8 triliun atau tumbuh 34,3 persen.
Jakarta – Kementerian Keuangan melaporkan realisasi belanja pemerintah pusat hingga April 2026 mencapai Rp826 triliun. Nilai tersebut tumbuh 51,1 persen dan setara 26,2 persen dari pagu APBN 2026 sebesar Rp3.149,7 triliun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah mempercepat realisasi belanja agar dampaknya terhadap perekonomian lebih signifikan.
“Belanja pemerintah pusat pertumbuhannya 51,1 persen sampai dengan April, dibanding tahun-tahun sebelumnya pertumbuhannya kan signifikan sekali, di samping tahun lalu rendah tapi memang ada percepatan belanja,” ujar Purbaya dalam APBN KiTa, dikutip, Rabu, 20 Mei 2026.
Baca juga: Breaking News! APBN Tekor Rp164,4 Triliun per April 2026
Secara rinci, realisasi belanja Kementerian/Lembaga (K/L) mencapai Rp400,5 triliun atau 26,5 persen dari pagu APBN 2026, tumbuh 57,9 persen secara tahunan.
Kenaikan tersebut dipengaruhi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), penyaluran bantuan sosial seperti Program Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JKN), kartu sembako, Program Keluarga Harapan (PKH), KIP Kuliah, serta pembayaran tunjangan hari raya (THR).
Sementara itu, realisasi belanja non-K/L mencapai Rp425,5 triliun atau 26 persen dari pagu APBN 2026, tumbuh 45,2 persen.
Belanja non-K/L dipengaruhi pembayaran manfaat pensiun, subsidi, serta kompensasi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik.
Total Belanja Negara Tembus Rp1.082 Triliun
Secara keseluruhan, realisasi belanja negara hingga April 2026 mencapai Rp1.082,8 triliun atau 28,2 persen dari pagu APBN 2026. Angka tersebut tumbuh 34,3 persen secara tahunan (yoy).
Baca juga: Kemenkeu Sebut Belanja Pemerintah Kini Lebih Disiplin dan Tepat Waktu
“Jadi kita gak main-main kita bilang kita akan dorong belanja, hasilnya seperti ini, jadi ketika ada pertumbuhan ekonomi lebih cepat bukan terjadi secara otomatis, terjadi karena berbagai macam faktor,” ungkapnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


