Poin Penting
- BEI mencatat 15 perusahaan berada dalam pipeline IPO per 30 April 2026.
- Mayoritas berasal dari perusahaan beraset besar di atas Rp250 miliar.
- Sektor konsumer, kesehatan, dan teknologi mendominasi antrean IPO.
Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa per 30 April 2026, terdapat 15 perusahaan yang saat ini antre di pipeline BEI untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
Meski demikian, Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyatakan bahwa pada periode ini, baru ada satu perusahaan tercatat yang telah melantai di BEI dengan perolehan dana yang diraih sebanyak Rp0,30 triliun.
“Sampai dengan 30 April 2026 telah tercatat satu perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan dana dihimpun Rp0,30 triliun. Hingga saat ini, terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Nyoman dalam keterangannya dikutip, Senin, 4 Mei 2026.
Baca juga: Airlangga Dorong IPO Dipercepat, jadi Kunci Tarik Investasi
Selanjutnya, dari sisi besaran aset, terdapat 11 perusahaan dengan aset di atas Rp250 miliar atau termasuk ke dalam aset skala besar, sementara 4 perusahaan sisanya termasuk ke dalam kategori aset skala menengah, dengan aset Rp50-250 miliar.
Sektor Konsumer dan Kesehatan Mendominasi
Lalu, dengan adanya 15 perusahaan yang antre IPO di BEI, sektor konsumer siklikal, non-siklikal, dan kesehatan masih mendominasi pipeline, di mana masing-masing terdapat 3 perusahaan atau mengisi porsi antrean IPO sebanyak 20 persen.
Selanjutnya, diikuti oleh sektor infrastruktur dan teknologi yang terdapat dua perusahaan masing-masing. Serta sisanya, masing-masing satu perusahaan dari sektor keuangan dan sektor energi.
Baca juga: Airlangga Dorong IPO Dipercepat, jadi Kunci Tarik Investasi
Sementara, dari sektor properti, bahan baku, industri, dan transportasi masih belum ada perusahaan yang masuk ke pipeline IPO.
Right Issue dan Obligasi
Adapun, untuk pipeline aksi korporasi atau right issue per 30 April 2026 telah terdapat tiga perusahaan tercatat yang melakukan penerbitan right issue dengan total nilai Rp3,75 triliun.
Sementara, untuk pipeline obligasi telah diterbitkan 54 emisi dari 35 penerbit efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS) dengan dana yang dihimpun sebesar Rp58,90 triliun. (*)
Editor: Yulian Saputra



