Poin Penting:
- Iran menyebut Teluk Oman akan menjadi “kuburan kapal” AS jika blokade laut tidak dihentikan.
- Teheran menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka untuk perdagangan, tetapi menolak penumpukan militer asing.
- Blokade angkatan laut AS sejak 13 April memperbesar eskalasi konflik di kawasan Teluk Oman.
Jakarta – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengeluarkan ancaman keras terhadap Amerika Serikat terkait blokade angkatan laut di jalur strategis Teluk Oman.
Teheran memperingatkan kawasan tersebut dapat berubah menjadi “kuburan kapal” bagi armada AS apabila tekanan militer terus berlanjut.
Ancaman itu disampaikan Anggota Dewan Kemaslahatan Iran, Mohsen Rezaei, dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Minggu (17/5). Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Teluk.
“Saran saya kepada AS adalah mundurlah sebelum Teluk Oman berubah menjadi kuburan bagi kapal-kapal Anda. Jika tidak, maka yang kami pahami adalah bahwa blokade laut merupakan tindakan perang dan meresponsnya adalah hak alami kami,” kata Rezaei dikutip Antara, Senin (18/5/2026).
Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp17.630 usai Xi dan Trump Tak Bahas Tuntas Konflik Iran
Iran Sebut Teluk Oman Terancam akibat Blokade AS
Rezaei menegaskan, sikap defensif Iran tidak boleh ditafsirkan sebagai bentuk penerimaan terhadap tekanan militer maupun ancaman dari pihak asing. Menurut dia, kesabaran Teheran selama ini memiliki batas.
“Jika kami telah bersabar hingga sekarang, maka itu bukan berarti kami menerimanya,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Rezaei juga mempertanyakan keberadaan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Ia menilai alasan lama Washington untuk mempertahankan kekuatan militernya di kawasan tersebut sudah tidak relevan lagi sejak runtuhnya Uni Soviet.
“Amerika datang ke sini dan membawa kapal-kapal perangnya. Siapa musuh mereka? Dulu mereka mengatakan datang untuk menghadapi Uni Soviet. Uni Soviet sudah tidak ada lagi,” katanya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan meningkatnya tekanan politik dan militer di sekitar Teluk Oman dan Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Selat Hormuz Tetap Dibuka untuk Jalur Perdagangan
Meski mengeluarkan ancaman keras terhadap aktivitas militer asing, Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz masih terbuka untuk kepentingan perdagangan internasional. Teheran menyebut yang menjadi keberatan adalah penumpukan kekuatan militer asing di kawasan tersebut.
“Selat Hormuz terbuka untuk perdagangan, tetapi akan ditutup bagi penumpukan militer dan segala upaya yang mengganggu keamanan,” tegas Rezaei.
Baca juga: Iran Mau Berunding dengan AS jika 5 Syarat Ini Dipenuhi
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa Iran masih ingin menjaga arus perdagangan global tetap berjalan, sekaligus memperingatkan negara-negara Barat agar tidak meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk Oman.
Ketegangan regional sendiri meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Teheran serta mengganggu situasi keamanan di Selat Hormuz.
Gencatan Senjata Gagal Redam Ketegangan
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui mediasi Pakistan. Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April, namun perundingan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang antara pihak-pihak yang bertikai.
Di tengah situasi yang belum stabil, Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu yang ditentukan.
Namun demikian, sejak 13 April Amerika Serikat tetap memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di jalur strategis tersebut. Langkah inilah yang kemudian memicu respons keras Teheran dan meningkatkan risiko konflik terbuka di Teluk Oman.
Situasi di Teluk Oman kini menjadi perhatian dunia internasional karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran dan distribusi energi paling vital di dunia. Ancaman Iran terhadap armada AS dinilai dapat memperbesar risiko gangguan keamanan dan perdagangan global apabila ketegangan terus berlanjut. (*)
Editor: Yulian Saputra


