Poin Penting
- Iklan efektif kini bukan soal produk, tapi emosi yang dekat dengan kehidupan konsumen
- Konsumen cenderung mengingat kampanye yang membangun “memory anchor” lewat cerita, bukan spesifikasi
- Lima kunci strategi: baca suasana, humanisasi cerita, bahasa sensorik, autentisitas, dan berani melawan data.
Jakarta – Di tengah makin ketatnya persaingan konten digital, strategi iklan kini dinilai tidak lagi cukup hanya menonjolkan spesifikasi produk atau promosi agresif. Konsumen justru lebih mudah terhubung dengan iklan yang mampu membangkitkan emosi dan menghadirkan pengalaman yang terasa dekat dengan kehidupan mereka.
Pandangan tersebut disampaikan Afianto Makmun dalam acara Most Loved Ramadan Ads 2026 yang diselenggarakan Kantar di Jakarta, Kamis (21/5).
Menurut Chief Creative Officer at Alva Digital Network, Afianto Makmun, secara psikologis manusia pada dasarnya mengambil keputusan berdasarkan emosi. Karena itu, kampanye iklan yang mampu memunculkan perasaan tertentu akan lebih mudah melekat dalam ingatan konsumen.
“Manusia sebenarnya tidak mungkin membuat keputusan tanpa emosi. Ketika seseorang merasa bahagia atau merasakan emosi tertentu, otaknya akan membentuk memory anchor yang menempel lebih lama di pikiran pelanggan,” ujarnya.
Baca juga: Studi Kantar: Brand Tak Bisa Lagi Andalkan Formula Iklan Lama
Ia menjelaskan, keberhasilan banyak kampanye Ramadan selama ini bukan terletak pada kemampuan menjual produk, melainkan menjual perasaan. Pendekatan tersebut, menurutnya, seharusnya tidak hanya digunakan saat Ramadan, tetapi juga relevan diterapkan dalam kampanye sepanjang tahun.
“Ini tentang tidak menjual produk, tetapi menjual perasaan. Kalau kita lihat kampanye-kampanye Ramadan yang berhasil, hampir semuanya sebenarnya menjual emosi, bukan produk,” katanya.
Afianto bahkan menilai sebagian besar formula kampanye Ramadan dapat diterapkan di luar momentum musiman tersebut, dengan sedikit penyesuaian konteks komunikasi.
Strategi Iklan Lebih Relevan
Dalam paparannya, ia membagikan lima strategi utama yang dinilai mampu membuat iklan lebih relevan dan emosional di mata audiens.
Strategi pertama adalah menampilkan suasana atau mood yang dekat dengan kondisi audiens. Menurutnya, keberhasilan banyak iklan Ramadan lahir karena brand mampu membaca atmosfer sosial yang sedang dirasakan masyarakat.
“Semua iklan Ramadan yang berhasil biasanya mampu menampilkan suasana yang sedang dirasakan audiens. Itu yang membuat kampanye terasa relevan,” ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah brand yang mampu membaca situasi sosial, tren, hingga dinamika budaya untuk diterjemahkan menjadi komunikasi yang dekat dengan konsumen.
Strategi kedua adalah menghumanisasi narasi. Afianto menilai brand sebaiknya lebih fokus bercerita dibanding terlalu sibuk memamerkan fitur produk.
“Ceritakan cerita, bukan sekadar menunjukkan spesifikasi produk,” katanya.
Ketiga, brand perlu menghubungkan perasaan konsumen lewat bahasa yang lebih deskriptif dan mampu memicu pengalaman sensorik. Menurutnya, audiens saat ini lebih mudah tersentuh oleh komunikasi yang bisa dirasakan dibanding sekadar slogan promosi.
Ia mencontohkan bagaimana Indomie kerap menggunakan pendekatan komunikasi yang membuat audiens membayangkan rasa dan pengalaman menikmati produknya, bukan hanya mengklaim produknya enak.
Strategi keempat adalah membangun autentisitas. Afianto menilai iklan yang terlalu sempurna justru memicu ketidakpercayaan konsumen.
“Kesempurnaan menciptakan ketidakpercayaan. Karena itu autentisitas justru membangun koneksi yang lebih kuat,” ujarnya.
Baca juga: Marak Iklan Pinjol Ilegal, DPR Ingatkan Bahaya Mafia Digital
Ia menilai konsumen kini lebih menyukai iklan yang terasa nyata, manusiawi, dan tidak terlalu dibuat-buat.
Sementara strategi terakhir adalah keberanian melawan data. Menurut Afianto, terlalu bergantung pada data justru bisa membuat semua brand menghasilkan pola komunikasi yang seragam.
“Kadang-kadang kita harus mengambil risiko dan melawan data supaya bisa menciptakan sesuatu yang berbeda,” imbuhnya. (*) Alfi Salima Puteri


